Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Senin, 29 Oktober 2007

Nasib Tukang Artistik

>>Siapa (itu) yang di belakang?<<

Seperti yang Dayu Kinanti lontarkan, bahwa apes betul jadi tukang artistik. Menjadi orang-orang yang mengerjakan set panggung, property, tata lampu dan tetek bengek lainnya.
Mereka menjadi orang-orang yang tak populer dan malah sering terabaikan. Meski tak sedikit pula tukang art yang menjadi populer dan disegani karena keahliannya.

Saat Grotowski menggembargemborkan bahwa teater dikembalikan lagi kepada aktor, maka lengkaplah sudah penderitaan orang-orang di belakang panggung, termasuk sutradara. Bila kemudian banyak pihak yang mengamini, tentu menjadi kesialan berikutnya bagi orang-orang di belakang peran.

Bahwa unsur teater sepokoknya ada 3 yakni aktor, penonton dan tempat pertunjukan. Artinya bila ketiga unsur pokok tersebut terpenuhi maka dapatlah dikatakan terjadi peristiwa teater. Aktor, artinya pemain, seseorang yang memainkan cerita atau peran. Penonton, artinya orang yang menyaksikan jalannya permainan sang pemain (aktor). Tempat pertunjukan, artinya tempat dimana permainan sang pemain itu terjadi. Tempat pertunjukan tidak melulu panggung konvensi tapi bisa menjadi lebih luas pengertiannya. Tempat pertunjukan bisa berupa jalan raya, cafe, mall, rumah petak, kantor de el el.

Bahwa bila aktor bisa memaksimalkan seluruh "daya tubuhnya" sebagai modal untuk bermain, maka hal-hal diluar tubuhnya dianggap sebagai tempelan semata. Artinya, si aktor harus mampu menggali potensi tubuhnya tanpa mesti tergantung dengan unsur lain diluar tubuh.

Aktor tak akan lagi tergantung dengan sutradara. Aktor yang selama ini menjadi boneka mainan sutradara, akan menjadi lebih merdeka. Dia menjadi sosok yang mampu menerjemahkan keinginan-keinginan estetis artistiknya sendiri.
Aktor tak lagi ribet dengan urusan kostum dan make up, sebab dengan kemampuan "daya tubuh luar dan dalam"nya, aktor bisa memainkan perannya. Aktor tak lagi merisaukan kerlap-kerlip lampu untuk membantu suasana emosional tokoh. Dia akan dengan lugas membawa penonton ke suasana emosional peran yang dilakoni meski di tempat terang benderang, siang hari di depan ruko misalnya.

Tuntutan menjadi seorang aktor yang mandiri, sungguh mempunyai sisi positif tersendiri. Saat aktor siap bermain dengan bermodalkan tubuhnya -tanpa mesti tergantung kepada sutradara, tukang artistik, penata make up de el el- maka peristiwa teater akan lebih sering terjadi dan akan lebih banyak orang yang mendapat pencerahan (bila memang tujuan bermain adalah untuk memberi pencerahan atau sekedar berbagi gagasan).

Akan menjadi lebih kompleks bila kita ngomongin sebuah peristiwa teater dalam kacamata "pentas grup teater".

Sebagai sebuah kerja tim, sebenarnya tak benar bila "orang-orang di belakang peran" menjadi terabaikan. Tercampakan. Tak dipandang dan ujung-ujungnya menggerutu sebab tak populer.

Sebuah pertunjukan ensamble yang bermuara pada pementasan, satu unsur melengkapi unsur yang lain. Sang sutradara tentu tak bisa sendirian. Pentas takkan terjadi bila tak ada aktor yang bermain. Pertunjukan kuran asoy kalau tak terdengar bunyi-bunyian atau ilustrasi musik. Pentas kurang "mengheekkan penonton" kalau lampu tak tertata dengan baik. Kurang wauw kalau kostumnya tak wauw. Dan tentu pementasan takkan terjadi bila tak ada produser yang berlintang pukang mencari dana dan mencairkannya.
Saat kesetaraan itu benar-benar diamini, tak akan terjadi satu unsur dominasi atas unsur yang lain.

Persoalannya adalah saat sebuah grup menjadikan sutradara sebagai dewa nahkoda pementasan. Grup takkan berjalan bila si sutradara ngehek misalnya. Seluruh jiwa raga grup melulu ada pada sutradara. Bahkan ada kelompok teater yang hanya punya sutradara (yang tak bisa bermain) tanpa mempunyai se-aktor-pun. Miris dan tragis.
Saat grup tumbuh seperti itu, tak heran bila "pamor" grup hanya dimiliki si sutradara. Selanjutnya yang beruntung adalah seseorang yang kebetulan menjadi aktor, dia akan kecipratan sedikit. Dan yang acap kali tak terdengar kentutnyapun oleh penonton adalah penata-penata yang berkeringat-keringat dibalik layar. Padahal, para penonton telah disuguhi suguhan paling prima hasta karya tukang artistik, lampu, properti, kostum, make-up, musik dan produser. Padahal aktor dan sutradara takkan dapat tepuk tangan penonton -atau cacian- tanpa keringat mereka.

Seperti yang mBah Roedjito almarhum (salah satu Mahaguru penata artistik Indonesia) katakan bahwa adalah sebuah pilihan untuk menjalani sesuatu yang jauh dari tepuk tangan dan pujian.

Dan selebihnya saya kembalikan kepada anda.

1 komentar:

MyLifeDiary mengatakan...

yang di balakang itu gerbong,
yang di belakang itu makmum,
yang di belakang itu penonton,
yang di belakang itu punggung,...
yaacccccch yang Itu di Belakang.

tapi yang di depan ini, mungkin dayu
tapi yang di depan ini, mungkin aku
tapi yang di depan ini, mungkin kamu
tapi yang di depan ini, mungkin Itu
mungkin?
apa yakin?

Yang ini itu Hobby
Yang itu mungkin profesi
Yang ini itu pasti misteri.

Sesuatu yang tampak brilian awalnya, ujungnya pasti biasa.
Tapi apa yang tampak konyol pada awalnya, ujungnya adalah sebuah penemuan.

Pilih ini apa itu.
pilih hobby apa profesi.
pilih naskah apa buku.
pilih setting (panggung) apa (operasi) anjing
pilih apa pilah
pilih apa pula[h]
apa pilih pilu[p]
pilih palu apa?

Palu yang bisa menghantam keragu-raguan saat memilih.

General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan