Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Senin, 29 Oktober 2007

Belajar Manjadi Aktor

>>Menjadi aktor dengan a kecil<<

Dengan bermaksud untuk menyindir seorang tokoh teater yang menyebutkan "aktor dengan a besar" maka saya sengaja tuliskan ini.


Siapakah sang aktor? Bagaimana menjadi aktor? Mampukah saya menjadi aktor?

Sudah sering kita mendengar kata aktor. Di film, sinetron, panggung teater hingga panggung politik. Di dunia peran (film, sinetron dan panggung teater) seseorang yang memainkan seorang tokoh disebut sebagai aktor. Entah sebagai figuran ataupun menjadi tokoh utama, dia berhak dipanggil sebagai aktor. Entah cuma satu kali main atau berkali-kali memainkan tokoh dan karakter yang berbeda, dia berhak dipanggil aktor. Kepandaian seseorang memainkan berbagai watak dan berbagai peran, membuat gelar "aktor" menjadi idaman bagi para penggila seni peran. Tak heran pula bila seseorang sangat lihai menggunakan berbagai peran di dunia politik maka dia dijuluki "aktor intelektual".

Bagaimana menjadi aktor yang baik?
Ada banyak buku-buku yang mengajarkan untuk belajar menjadi seorang aktor. Stanislavski menjadi bapak peran yang dijadikan acuan mahasiswa-mahasiswa seni peran di dalam dan luar negeri. Bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia "Persiapan Seorang Aktor" oleh Asrul Sani, menjadi buku ajar di sekolah tinggi seni di indonesia. Buku itu menjadi pedoman awal seseorang untuk bermain drama.
Di Indonesia sendiri, WS Rendra telah menuliskan "teknik-teknik akting" hingga sekian seri yang dimuat di Kompas pada awal 70-an dan kemudian dicetak ulang oleh Direktorat Kesenian.
Dan masih banyak lagi yang bertebaran di toko buku-toko buku, perpustakaan dan situs-situs internet, tulisan-tulisan para praktisi maupun akademisi yang berkaitan dengan pelajaran menjadi seorang aktor.

Persoalan bahwa kemudian di Indonesia jarang dijumpai buku-buku tentang bagaimana belajar "akting" yang baik itu adalah hal yang tidak ingin saya omongkan disini. Sebab, di jaman sekarang teknologi membikin kita menjadi lebih mudah untuk belajar.

Coba saja kita berselancar di google kemudian ketik "stanislavski""acting" (ditulis sama persis seperti disamping, dengan tanda ") maka akan muncul
114.000 situs yang membahas teknik akting Stanislavski. Bila anda kreatif, tentu bisa melakukan pencarian bahan-bahan yang berkaitan dengan belajar akting dengan memainkan sintak google. Misalnya, anda ingin mencari bahan seminar atau skripsi atau tesis yang berkaitan dengan akting atau teater, anda bisa ketik .pdf teater maka akan dijumpai 1.760.000 file pdf yang berkaitan dengan teater.
(Anda juga bisa memainkan sintak google untuk berbagai macam pencarian. Bila anda ingin tahu lebih lanjut tentang sintak google, silahkan browsing di google)

Lalu bila kita telah mendapat bahan bacaan banyak, lantas kita mau apa?
Sebagai seorang yang tak mengenyam mata kuliah akting di sekolah seni, tentu saya tak bisa ngomongin bacaan-bacaan itu lebih jauh. Bagi saya, teori- teori akting itu tetap sebagai pengetahuan namun bukan sebagai penjara. Seseorang yang pengin belajar menjadi aktor -menurut saya- sebaiknya mesti tetap memperbanyak bacaan-bacaan sebagai pengetahuan. Namun yang lebih penting dan lebih nyata adalah prakteknya. Latihan-latihan. Setiap waktu. Dengan kesadaran dari diri bahwa seorang aktor mesti banyak membekali diri dengan pengetahuan atau ilmu.
(kata kakek saya almarhum, ilmu itu nyampar nyandung. Artinya ilmu bisa di dapat di sekitar kita sehari-hari dan sering tak kita sadari,meski sebenarnya si ilmu sudah terinjak dan tersandung)

Dalam keseharian, kita semestinya meluangkan diri untuk mengingat dan merekam kelakuan kita ataupun kelakuan orang lain. Sebentar saja, tak usah lama-lama. Lalu yakini bahwa suatu waktu apa yang kita rekam itu akan bisa manfaatkan saat kita memainkan sebuah peran.
Kita juga bisa meluangkan diri untuk melemaskan otot ataupun sekedar mengerti beberapa bagian dari organ, persendian, otot-otot dan tulang belulang kita.

Untuk menjadi aktor dengan "a" kecil semacam kita, sebenarnya latihan-latihan yang dilakoni akan menjadi lebih riang dan gembira. Tanpa akan menjadi sebuah beban bahwa kita adalah seorang aktor dengan "a" besar yang menjadikan aktor sebagai sebuah profesi dan beban "nama besar".
Kita bisa melakoni latihan saat di kamar mandi misalnya, yah sekedar berjinjit, membungkukkan tubuh atau melakukan gerakan lucu yang "lebih privasi". Apa beratnya melakukan hal-hal kecil untuk "sekedar" mengetahui seluk beluk tubuh sendiri?
Latihan-latihan kecil dengan riang gembira di kamar mandi saya pikir bisa dilakoni setiap hari. Bukan hanya saat mandi, latihan ringan bahkan bisa kita lakoni saat kita jongkok di toilet sambil buang air besar. Sungguh sangat mengasyikkan, melakukan posisi ekstrem saat buang air besar. Coba saja anda lakukan.
Saat di ruang kerja atau ruang kuliah, kita bisa juga melakoni latihan ringan. Yah sekedar mengamati gerak gerik teman, dosen, guru atau rekan kerja. Di jalan, di pasar, di mall, di warnet bahkan di atas ranjang bersama pasangan. Sungguh mendebarkan dan tak membosankan.
Sebagai calon aktor dengan "a" kecil (sudah calon, "a" kecil lagi) yang diperlukan hanya kemauan. Bukan karena ketertekanan. Anggap saja kalau toh kita gagal menjadi aktor, paling tidak kita akan menjadi lebih berwarna warni dalam hidup.
(bayangkan pasangan anda akan ternganga dengan gerak ekstrem anda, dosen anda akan terkesima dengan gaya anda yang kelihatan menguasai materi kuliah atau teman anda yang selalu teryakinkan bahwa anda selalu punya duit dan selalu siap mentraktir)

Jadi, mampukah saya menjadi seorang aktor?

2 komentar:

MyLifeDiary mengatakan...

BelA-Jar-Manja-di-AktOr.

sorry
Gwa juga masih belajar, belajar mengeja kalimat. biar bisa mengerti bahasa, biar ngreti dan bisa memahami.
Mengurai mana yang huruf besar, mana yang huruf kecil.
Nama yang Kapital mana yang bukan.

Namanya belajar yah harus ada yang disombongkan.
Kayak ini yang bapak Budi,
Kayak itu yang ibu Budi,
kayak wati yang kakak Budi,
Kayak iwan yang belA-Jar ManJa-di-Aktor,

Teater,
RUANG!

Catur Stanis mengatakan...

aku ngga begitu peduli, mo besar mo kecil. sebab bagiku aku lebih akrab dengan Mo Orok, hehehe. Salam buat kawankawan di situ ya. kapan workshop mo ngundang aku?huehehehe,.

General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan