Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Selasa, 18 Desember 2007

Wawancara Ekslusive dengan Ibed

>> Dituliskan oleh Wiwit "Kethel" Subekti <<

email penulis: sasi_ireng@yahoo.co.id



Komunitas Seni Teku adalah komunitas seni yang didirikan oleh Ibed dan teman-temannya untuk eksplorasi kegelisahan-kegelisan yang ada pada dirinya. Al hasil “Sri 4 Me” merupakan letupan kegelisan-kegelisahan yang sering menemaninya. GATEL kali ini merasa beruntung sekali sebab Ibed beserta teman-teman memberi bocoran tentang kegelisahannya yang akan direalisasikan dalam bentuk seni pertunjukan pada April 2008 nanti. Sri 4 me adalah prolog dari keseluruhan pementasannya, sebab kang Ibed masih harus banyak riset mitos-mitos lagi yang bersangkutan dengan Sri atau yang lebih dikenal dengan dewi padi.


Tak disangka, ternyata GATEL kali ini mendapatkan sebuah keberuntungan, kejatuhan bulan benar-benar, secara gituloh, kang Ibed adalah seorang sutradara yang sudah tak asing lagi bagi sanggar seni di Jogya dan Bali. Tak tahu bagaimana rasanya, yang pasti seneng sekali, sebab GATEL kali ini menjadi tempat perdana dalam pementasan naskah Sri 4 Me.


Bukan hanya panitia GATEL yang beruntung, namun team kami dari modernbalinese teater.blogspot.com juga dapat bagian; mmpunyai kesempatan untuk sedikit ngobrol dengan kang Ibed


Oke pecinta blogger kita mulai dengan ngobrolnya, sebentar saya akan nyalakan alat perekam saya dahulu.


Team bloogger, datang dengan mindik-mindik sedikit jaim; jaga image, secara gitu loh kita belum punya ID Card ( jadi malu).


“Selamat malam kang Ibed, kami dari modernbalinese teater.blogspot.com ingin sedikit ngobrol mengenai pementasan yang kang Ibed sutradarai, pertama-tama selamat atas suksesnya pementasan ( sembari mengulurkan tangan), dan pementasannya sangat oke..


Kang Ibed
:
Terima kasih,


Ketel:
Kang kalau boleh tau, dari mana akang mendapatkan ide kreatif tersebut, terus berapa lama proses latihannya hingga pementasannya? ( dengan muka dongo)


Kang Ibed :

Oh, karya Sri 4 Me. Karya tersebut sebenarnya sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia, secara Indonesia adalah Negara agraris. Terlebih lagi daerah Sunda dan Jawa, sebab saya riset di sana. Ide cerita ini diambil dari foklor yang telah akrab dengan mereka, mitologi tentang dewi Sri yang diyakini mereka sebagai dewi padi atau juga dewi kesuburan yang dekat dengan pembawa kehidupan bagi manusia.



Ketel:
Mengenai Sri 4 Me, tadi dibilang, bahwa pementasannya adalah prolog dari foklor dewi Sri tersebut, Bagaimana proses kreatif ?


Kang Ibed :

Pementasan tersebut memang baru dapat dikatan sebagai embrio dan pragmen–pragmen dari cerita keseluruhannya. Sebab mitologi dewi Sri, masih banyak hal-hal yang perlu dieksplor lagi dalam foklor tersebut.

Di sini saya mencoba benturkan antara tokoh Sri dengan waktu, diantaranya, Sri sebagai sosok dewi yang maha agung, Sri sebagai orang biasa, di lain sisi Sri juga mungkin dapat diartikan sebagai sebuah idiom tradisi, sedang disisi lain adalah modern.


Ketel:
Melihat penjelasan kang Ibed, lalu sebenarnya kegelisahan apa yang ingin disampaikan oleh Sri tersebut?


Kang Ibed :

Sampai saat ini saaya, masih ingin ngobrol denganb teman-teman tentang sebuah benturan yang terjadi, seperti benturan antara tradisi dan modern yang pada akhirnya saling menyalahkan tanpa ada sebuah penyelesaian. Benturan dianggap sebagai sebagai makhluk yang menakutkan, mungkin hanya ini saja yang saya dapatkan dari keliaran ide saya.



Ketel:

Lalu mengenai tokoh Dewi Sri sendiri apa maksudnya


Kang Ibed :

Mengenai Sri sendiri adalah sebagai simbol kehidupan secara universal, hal ini terlepas dari perspektif gender. Hidup adalah sebuah anugrah bagi mahluk hidup yang dimana kita harus menjalaninya, terlebih sampai kita dapat mempunyai arti dalam kehidupan itu sendiri. Untuk mengeksplor kehidupan agar menjadi berarti, kita dituntut dinamis dan sigap menghadapi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, salah satunya adalah benturan tadi. Dari kesemuanya dapat disimpulkan bahwa kita harus berani menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dan berusaha untuk tetap berjalan.


Ketel:
Melihat penuturan kang Ibed saya teringat akan novel Dee yang berjudul yang tidak salah berjudul “Ksatria dan putri apa gitu. (tung-tung sory lupa judulnya) dimana didalam bercerita tentang benturan-benturan yang pada akhirnya tercipta sebuah itik klimaks dari benturan tersebut, kalo gak salah lagi namanya adalah bifurkasi, ( dengan sok taunya), mungkinkah hal itu ada hubungannya?


Kang Ibed :

bisa jadi juga, sebab titik putih itu adalah kehidupan itu sendiri


Ketel:

Bener juga tuh kang (dengan sedikit nyengir bego gitu)
Oh, ya bang mengenai pelengkap pertunjukan seperti ligting dengan menggunakan visual dan musik dugem, itu kaitannya apa dengan dewi sri? Yang kedua boleh minta bocoran tentang formula cairan tersebut?


Kang Ibed :

Berkaitan dengan visual art-nya, memang bisa dikatan itulah dinamika dari sebuah kehidupan, yang selalu bertabrakan satu dengan yang lain, yang pada akhirnya ada yang mau berkompromi membuat sebuah kebaruan dari penggabungannya, disisi lain ada yang tidak mau membaur sama sekali teguh dengan pendiriaannya, dan hal itu lumrah. Mereka ada di sekeliling kita.

Untuk teknik visualnya, saya tidak dapat menerangkan, namun kita panggil pakarnya langsung, Mas Lintang (Ibed kemudian memanggil Lintang)


Kang Lintang :

Ini adalah teknik liquid art, yang sebenarnya sudah ada dari tahun 60-an, namun dengan perkembangannya visual teknik ini mulai ditinggalkan dengan banyaknya teknologi yang lebih maju dan efesien. Untuk masalah cairan saya banyak memakai cairan kimia, oli dan mineral lainnya. Untuk menghasilkan seperti tadi, saya telah melakukan eksperimen selama enam bulan, dan bagi saya hal itu belumlah maksimal. Masih perlu eksperimen lainnya.


Ketel:

Secara tadi terlihat bahwa penonton masuk ikut dalam arena pertunjukan, apakah hal itu adalah bagian dari gambaran pementasan yang telah dirancang kang Ibed?


Kang Ibed :

Oh, hal itu karena saya ingin menyesuaikan dengan penikmat, secara pementasan ini ada di SMA Santo Joseph, yang bernota bene adalah anak muda yang akrab dengan budaya dugem, maka dari sinilah saya mencoba memasukan mereka kedalam bagian dari pementasan. Di sini saya mencoba berkomunikatif dengan penonton saya, bagi saya dengan masuknya mereka dalam pementasan adalah bagian dari pemahaman mereka tentang karya saya.


Ketel:

Bolehkah hal ini dapat dikatakan sebagai improvisasi dari kang Ibed sendiri?

Kang Ibed :

Yah, karena saya tidak ini kaku, saya ingin elastis dimana setiap kemungkinan itu akan ada. Mungkin nanti pementasan pada tanggal 19 desember 2007 di Undiksha, mungkin hal seperti itu tidak lagi ada. Di sini saya mencoba mengerti akan penikmatnya, (situasi dan kondisi).


Ketel:

Bagaimana menurut kang Ibed dengan perkembangan teater diobali sendiri, hal ini karena kang Ibed sering sekali pentas di Bali?


Kang Ibed :

Secara mendetail saya tidak tau précis, namun dengan adanya GATEL dan PARTI, saya rasa keadaan teater di Bali sudah mulai maju, sebab pementasan teater sudah mulai semarak, bahkan saya cukup tercengang juga dengan adanya Pagelaran teater ini yang saling sambung-menyambung. Yang pasti hal ini terlepas dari konflik dan perkembangan wacana yang sedang menyelimuti Bali.

Saya harap bali bisa seperti Jogya yang tidak pernah mati dengan event-event pertunjukan teater, seperti sekarang iniu Gandrik mulai eksis kembali ke permukaan. Bahkan setiap event yang ada selalu ada saja yang meng-counternya, setidaknya manajemen konflik di Bali mulai berjalan, dan mungkin dapat menyaingi Jogya.


Ketel:
Ini yang terakhir kang, apa harapan kang Ibed dengan teater?


Kang Ibed :

Dengan teater saya dapat berkomunikasi dengan orang lain dan masyarakat, dan saya ingin belajar mengerti mereka walau saya tidak sepakat dari mereka. Namun mereka adalah bagian daam kehidupan saya.


Terima kasih untuk Kang Ibed, sukses selalu.




3 komentar:

MyLifeDiary mengatakan...

tiga tanggapan aja:
1. Eksperimen yang membangun [salut Buat Ibed]
2. Resensi (event) Teater yang menarik.
3. Profesi yang aneh [Ketel]
what? wartawan blog.
Aneh!!!

:)

Catur Stanis mengatakan...

aku mau ndaftar jadi wartawan blog juga ah...

Catur Stanis mengatakan...

sekalian numpang tanya, yang dimaksud Ibed dengan Parti itu jangan-jangan Party (perkumpulan Artis Teater Yogyakarta),hahaha.

General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan