>> Tulisan oleh bunyirantau@yahoo.com <<
Belum selesai resensi pentas teater Gatel, kaum resentor (hehehe) harus disibukkan untuk menuliskan pentas teater di sastra. Sungguh bukan pengamat yang baik, jika melewatkan pentas di sastra tersebut. Keduanya bisa dianggap sebagai event teater, meski jujur keduanya tidak digagas oleh komunitas teater profesional.
Saya sendiri bingung jika harus menyebutkan siapa sebenarnya komunitas teater profesional di Bali. Tidak bermaksud menyinggung, mungkin karena saya hanya seorang penonton yang malas jika tiap hari harus datang menyaksikan pertunjukkan teater. Di kedua event tersebut ada salah satu hal yang menarik untuk dibicarakan (sekali lagi tidak bermaksud memperkeruh keadaan), bahwa event yang satu muncul akibat dari event yang lainnya. Mungkin bisa disebut sebagai hukum kausa prima ato hukum sebab akibat.
Event Gatel merupakan event tahunan yang memang digagas oleh unit kegiatan siswa dengan bantuan Institusi pendidikan di atasnya. Saya yakin bahwa pihak sekolah membantu total acara tersebut. Berbeda dengan Gatel, even yang ada di sastra benar-benar dadakan. Bahkan saya tidak tahu apa nama event tersebut. Pada awalnya saya pikir even Lesehan Budaya, sebuah event khas Fakultas Sastra.
Saya pun yakin kalau acara yang digagas oleh Poerbacaraka ini, tidak sepenuhnya disupport oleh institusi di atasnya. Padahal sastra merupakan pihak yang paling kompetent untuk ngobrolin ruang ini, tentu saja selain ISI Denpasar. Sudah barang tentu jika secara kualitas dan kwantitas acara Gatel lebih bagus ketimbang acara di Sastra. Dugaan ini mungkin lebih awal dan tidak mendasar, tapi setidaknya begitu perkataan temen saya yang kebetulan menyaksikan keduanya.
Masalah event teater di Bali, adalah masalah padatnya waktu yang mungkin jauh lebih banyak dibadingkan dengan daerah lain, mungkin termasuk Jakarta sekalipun. Justru hal itu menjadi masalah, karena setiap kelompok teater akan semakin takut untuk memproduksi dan
mementaskan karya dalam panggung sendiri. Kalo dalam bahasa Umbu disebut "solo run".
Semakin banyaknya event yang ada, akan semakin membunuh kreatifitas sebuah kelompok untuk belajar tentang management teater dan beaya produksi sebuah pementasan. Kenapa hal tersebut bisa terjadi, satu hal yang paling biasa dalam produksi pementasan adalah
budgeting pementasan dan hal itu butuh serang pimpinan produksi yang handal. Sedangkan bagi kelompok teater yang ikut dalam acara event model di atas, yang menjadi kendala adalah mencari aktor dan sutradara, bukan mencari uang produksi. Belom lagi proses latihan
yang cenderung dadakan. Gampang banget seorang aktor mengubah karakter tokoh yang dipentaskan, karena dia main di dua pementasan misalnya. Kemaren begitu bagus memerankan orang jahat, di pentas selanjutnya jadi gagap ketika mementaskan orang baik. Belum lagi
masalah properti yang apa adanya hanya karena uang produksi minim.
Terlepas dari masalah kendala di atas, alangkah baiknya jika ada event teater yg benar-benar digagas dengan baik dan profesional. Ngga ada yang sakit hati jika tidak lolos seleksi. Ngga ada lagi anggapan terbalik bahwa team selektor dihubungkan dengan strata pendidikan
(masak sma harus menyeleksi anak kuliah). Ngga ada lagi masalah keuangan yang minim dan mencari keaktoran karena pihak panitia menyediakan budget pendanaan buat pementasan.
sebuah event teater yang bagus adalah sebuah event dimana para pelaku teater, penonton dan kritikus menjadi satu bagian yang ketiga2nya saling diuntungkan.
Jika dalam ruang musik ada Woodstock, mungkin ngga dalam ruang teater ada event seakbar itu. Jika tidak Woodstock setidaknya ada Soundrenaline untuk event teater. Alangkah bangganya jika melihat Diaz (SMU 2), Ayang (Poerbacaraka), Ibed (Jogja), Bob (creamerbox), dan pelaku teater lainnya menjadi nabi baru dalam panggung teater, seperti ketika Santana meraungkan suara gitarnya dan berteriak "...and we did not realize what we were in for!"
teater, butuh event!
Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com
Senin, 24 Desember 2007
menggagas event teater
Diposting oleh
tomo
di
21.24
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Blognya Sahabat
Aksi minimalis Blackfogs Andy Padang the motivator! aRya Gothic Ayip Matamera Bilal Furqoni Bintang Bermusik Bonekanya Dian Car Insurance Dedi Dolrosyed Craig Says Digital Polaroid Dr Dree Spesialis Mata Fanty as Drama Queen Free Tips for You Kata Heru Live lovenya Oecan love-dollar mas ncEp Mangkok Bali Mediax Yonas Sestrakresna the videomaker Tatiana Browniestone Rais Blajar Terus Slugger skater Satya Natherland Rumah Tulisan Plinplan n cute Penyair Wayan "Jenki" Sunarta Pak cik Teranung di Jiran Ratih Indrihapsari Dayu Cute Puisi Selaksa Jiwa Bams Rendesvouse Penyair Riki Damparan Putra Saichu Soulidaritas Dadap Blog Learning English Pojok Waroeng Kopi Tenggarong23 Etavasi Blogkita-Bandungblog Civil Engineering Bagus Batam Hidup Belajar Nara Chill Lounge Music Neo Kid on the Blog Love-sex and Marriage New Music Update Retchel 1980 Craig Says Marilyn Kate Soraya City Adek Campur Campur Pinay Mom in Czech Hideout Gateway Gles Moch Satrio Welang
Teater Topeng SMAN 2 Denpasar
Intan Ivanna John
Teater Rumput SMKN 1 Denpasar
Robby
Tidak ada komentar:
Posting Komentar