Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Sabtu, 26 Juli 2008

Ketika Jaya Prana – Layon Sari terjebak dimensi

>> Pentas “ Lakon di Layon ‘ memoriam of mantram’ “ Sanggar Poerbatjaraka <<

‘’ Oh Brahman yang agung, aku percaya atman yang dikirimkan kepada manusia akan kembali kepadamu bila atman sudah cukup murni, kemurnian itu aku melihatnya ada dalam diri Jaya Prana, karena itulah yang membuat hatiku sedikit tenang…

Maka malam ini aku haturkan sesaji agar harum bunga dan asap dupa menghantarkan jiwanya yang murni kepadamu,tapi hati ini tidaklah bisa dibohongi. Seandainya hati yang redup ini diberikan sedikit cahaya untuk membuka tabir dibalik semua ini maka aku akan melakukan perlawanan!” (Lakon di Layon : 2008 )

Demikianlah sepenggal dialog Layon Sari dalam Naskah ‘Lakon di Layon : Memoriam of Mantram’ karya Hendra Utay yang juga sekaligus menyutradarai penampilan Sanggar Poerbatjaraka dalam rangkaian Lesehan Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Minggu ( 20/7)

----------------

SUDAH ribuan kali naskah Jaya Prana – Layon Sari , di obrak – abrik, di sadur, dan dipentaskan dalam panggung pertunjukan baik lokal, nasional maupun international. Lagi, sebuah naskah berdasarkan cerita rakyat Bali ini lahir. Hendra utay sebagai penulis naskah Lakon di Layon ‘memoriam of mantram’ ingin bereksperimen mengangkat cerita itu dengan sisi yang lebih humanis. Bagaimana pergulatan batin Layon menentang dewa atas takdir meninggalnya Jaya Prana sebagai wujud sang belahan hati. Jaya Prana dan Layon Sari terlempar ke dimensi lain, ratusan tahun kedepan yang menyebabkan konflik semakin rumit, unik dan terkadang menggelikan. Sejarah selalu berulang, tapi bagaimanakah nasib Layon Sari, sesosok wanita yang terombang – ambing oleh nafsu, kekuasan dan cinta? Utay mengawinkan naskah rakyat tersebut dengan wujud kekinian dengan isu-isu santer yang terjadi di masa sekarang, diantaranya pemilihan Gubernur Bali sampai kasus penyuapan akbar, Arthalita Suryani.

Siluet menampilkan sesosok tubuh di masa lalu, sosok Sawunggaling yang menerima titah Raja untuk membunuh Jaya Prana, di susul dialog inti sawunggaling dan layon sari yang merupakan cerminan kepatuhan pada raja yang menimbulkan konflik pada hati nurani. Layon Sari pun di tampilkan menghaturkan sesaji dan sesembahan atas prosesi meninggalnya jaya Prana

Adegan berikutnya di tampilkan dengan seting ratusan tahun ke depan. Berseting di sebuah rumah pejabat calon gurbernur bernama Jack beserta istrinya bernama Sari yang ternyata mendapat gangguan dengan kejiwaannya. Istri calon gubernur ini mendengar suara – suara aneh, mencium bau dupa, darah dan kerusuhan pun terjadi tatkala Layon Sari merasuki tubuhnya.

Layon Sari yang terjebak dalam tubuh Sari menimbulkan konflik tersendiri tak kala orang – orang di kehidupan sekarang bermunculan. Baik itu tokoh Wijil sang pengacara politik sekaligus tim sukses gubernur sampai tokoh pembunuh bayaran bernama Brewok yang mirip Sawunggaling di masa lalu.

Konflik semakin meruncing di saat dua kehidupan beda dimensi berbenturan. Wijil sang pengacara sekaligus tim sukses sang gubernur terjebak percakapan yang sangat tidak komunikatif dengan Jack yang juga telah terasuki atma Jaya Prana.

Penonton seperti di seret untuk menyelami cerita rakyat ratusan tahun silam. Tetapi dengan bentuk naskah yang segar membuat mereka tidak terlalu kesulitan mencerna bagaimana jalan cerita dan pesan yang ingin di sampaikan dalam pementasan.

Salah satu penonton, Eka Darmartha menyatakan bahwa pertunjukan lumayan komunikatif, segar dan penonton tidak perlu berkerut – kerut untuk menikmatinya. Ditambah saat kemunculan tokoh Wijil yang diperankan oleh Moch Satrio Welang tampil segar di awal kemunculannya. Pertengkarannya dengan Jack ( Eko Widiastomo ) terasa begitu hidup dengan dialog – dialog yang natural besutan Hendra Utay. Kebingungan dan kekalutan Layon Sari yang di perankan Novi Dwi Jayanti berhasil membuat aura pertunjukan menjadi kelabu,suram dan penuh luka terutama di saat Brewok ( Raditya Pandet ) ingin membunuh sang calon gubernur. Lagi tragedi itu berulang.

Kendala teknis pun dihadapi selama pertunjukan berlangsung, seperti permainan lampu yang terbata – bata, kesulitan teknis dengan siluet sistem bongkar pasang, vokal pemain yang masih harus di garap lagi. Dengan durasi kurang lebih satu jam, naskah yang disutradarai langsung oleh Hendra Utay ini dimainkan oleh Novi Dwi Jayanti, Moch Satrio Welang, Eko Widiastomo dan Raditya Pandet sebagai tampilan penutup Lesehan Budaya 2008 Fakultas Sastra Udayana.

Ni Wayan Meliana, selaku ketua panitia berharap bahwa pelaksanaan Lesehan Budaya oleh Sanggar Poerbatjaraka ini dapat membangkitkan tradisi tahunan Fakultas Sastra yang sempat vakum selama dua tahun. Lesehan Budaya kali ini menyuguhkan penampilan teater (Teater Topeng, Teater La Jose, Sanggar Poerbatjaraka) pembacaan puisi ( Moch Satrio Welang, Pranita Dewi dan Komunitas Sahaja ), pentas musik ( Remidy Band, KSDD, The friend band ), obrolan budaya ( Padepokan Seni Lintas Budaya) dan pameran keramik, lukis dan instalasi oleh mahasiswa ISI Denpasar. ( MSW, pelaku dan peminat teater )

2 komentar:

mahardika mengatakan...

Wadduuhhh sayang sekali saya kurang paham dengan dunia teater. Tapi saya mendukung sepenuhnya aktivitas teater ini. Semoga tambah maju ya teater Bali.

mbahdinan mengatakan...

hallo sobat karib bali, kami akan kasih info kalo ada event di kalimantan, salam kenal buat semua kawan-kawan teater...kebetulan kebun kopi juga sering garap musik2 teater lokal dikalimantan barat...semangat!!!!!

General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan