>> Sebuah Catatan yang tak Pernah Selesai <<
Minggu, 24 Februari 2008
Perlukah Lomba Teater?
Diposting oleh
tomo
di
06.40
1 komentar
Rabu, 20 Februari 2008
Bali yang Binal
>> Keresahan Yang Merasa Muda atau ? <<
Saya mendapat sebuah pesan pendek di telepon genggam. Begini yang terlihat:
+62817472xxxx
Waaah..temen-temen pelukis muda Denpasar bikin heboh lagi...
Itu sudah pasti! Sebab mereka katanya mau "studio works" di tempat pameran.
Jadi benda-benda yang dipamerkan benar-benar "fresh from the oven" - segar langsung dibikin hari itu dan langsung dipamerkan!
Katanya ada juga pemutaran video art (kayaknya punya Yonas) trus baca puisi penyair perempuan (nah yang ini ngengaet Eka Pranita Dewi yang cute itu) pentas musik (ini kumpulannya anak-anak underground Denpasar ples, Dion n Wukir) juga ada performing art (yang maen ada Dedi Dolrased, Alit Satura, Ari Pojok trus Yos jadi ngga ya?)
Saya dijadwalin performing art juga. Tapi kok tubuh saya minggu-minggu belakangan ini naek turun suhunya ya?
Saya ga jadi maen. Saya demam. Tapi saya ada oleh-oleh buat anda.



* Model oleh saya hehehe
Diposting oleh
tomo
di
22.36
1 komentar
Selasa, 19 Februari 2008
Senin, 18 Februari 2008
Selamat
atas dilantiknya anggota baru
Teater La Jose
SMAK Santo Joseph Denpasar
pada hari Minggu, 17 Februari 2008
Semoga terus berkarya dan makin kreatif!!
Dahsyat!
Diposting oleh
tomo
di
23.35
0
komentar
Minggu, 10 Februari 2008
KEBERANIAN MELAWAN
>> Tulisan oleh Dadi Reza Pudjadi <<
email: dadireza@yahoo.com
Bukan maksudku mau berbagi nasib,
Nasib adalah kesunyian masing-masing
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
Sebentar kita sudah dalam sepi terjaring.
(Chairil Anwar)
Kita boleh prihatin dengan lesunya kehidupan proses berteater kita. Sedikit-banyak sebagian dari kita tentu tahu apa sebabnya. Tapi biarkanlah. Sebagai manusia mereka memang bebas memililih atau menentukan apa yang akan mereka lakukan. Yang masih mau terus berteater, juga terus saja.
Tak baiklah kita terus berkeluh-kesah dengan kondisi yang menimpa. Selama rasa diri dalam hidup masih berguna, masih punya daya. Bosan juga terus-terusan mendengar keluh-kesah betapa hidup jadi susah dan terasa berat karena berteater. Atau melihat tulisan-tulisan yang melulu berisi keluhan. Walau bisa jadi maksudnya bukan seperti itu, bukan ”mengeluh”, tetapi bentuk keprihatinan karena, melihat teman-teman yang bergelut di dunia teater kelihatan menderita sebab mungkin sudah bersusah-susah latihan, mengorbankan perasaan, waktu yang lama dan biaya, tapi ketika pentas penonton sepi (penonton dia-dia juga), atau kelihatan kostum pemain apa adanya, set selalu terpaksa diminimalis (latar belakang selalu layar putih yang sudah hampir coklat karena jarang dicuci dan beberapa lobang bekas abu rokok), tidak punya dana karena sponsor menolak memberi dana. Itu bukan alasan untuk mengeluh. Itu justru nikmatnya sebuah pelajaran. Justru hal itu menjadi dorongan/motivasi dari sebuah tantangan besar dalam dunia yang sedang kita geluti. Kita tahu berapa besar resikonya. Toh, penderitaan ini bukan karena kekonyolan. Banyak hal yang sebaiknya patut disyukuri dari pergumulan ini. Kita sedang berjuang kembali pada masyarakat. Biarlah kita menjadi napi dalam penjara sendiri. Sebab kebebasan kita nanti adalah kebebasan masyarakat banyak. Sebab itu jangan salahkan siapa-siapa atas kondisi itu. Salahkan rasa memprihatikan diri dan buruk sangka pada niat tulus kita. Lalu benarkan bahwa kita memang memilih teater sebagai aktivitas kehidupan, benarkan bahwa kita masih harus terus banyak belajar, benarkan bahwa kita ada dan meyakininya. Benarkan bahwa kita punya sesuatu kebanggan. Yaitu keberanian untuk melawan! Akting kita begitu sekarang.
Akting
Untuk menjadi aktor ternyata bukan hanya sekedar seberapa paham kita mengenal panggung, mendalami akting, menafsirkan cerita atau menghargai adanya penonton sebagai partner. Seni keaktoran bisa jadi seperti perang yang tak pernah habis melawan hal-hal negatif dalam diri kita, seni menyiasati kebodohan, rasa malas, kurang dapat mengatur waktu, rasa angkuh atau bisa juga perasaan kerdil dan rasa rendah diri dan sebagainya. Karena sejatinya ketika di pentas, sang aktor bukan sekedar sedang memunculkan kharakter/tokoh orang lain, tapi sedang mementaskan dirinya sendiri dan berusaha melebur dengan diri orang lain (lawan main), dengan segala kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Itu semua muncul dari sejauh mana proses yang sudah dijalani. Dari pengendapan/kristalisasi perasaan, pemikiran, dan semua kekuatan yang total saat proses berlangsung. Actor yang baik bisa jadi adalah pencipta dan pengatur alam dalam dirinya sehingga menjadi kekuatan yang dapat diresap dan menciptakan determinasi bagi dirinya dan orang lain. Hasil yang didapat berawal dari actor sebagai pemberi informasi dominan tentang kejadian yang akan berlangsung. Mampukah para actor mengkomunikasikan cerita pengarang yang ditafsirkannya kembali kepada masyarakat. Mempresentasikan gerak badan-gerak bathin dan pemikirannya tentang respon dirinya terhadap situasi alam dalam dirinya yang berbenturan dengan alam kehidupan lain. Perbenturan dua alam inilah yang memunculkan acting. Memunculkan keindahan murni dalam sebuah kesenian jika sang actor berhasil memahami fungsi dirinya sebagai seorang pencipta. Bertransformasi menjadi. Menjadi apa saja. Perasaan lega dan lapang muncul dari perasaan saling yakin. Kepuasan manusia berada di saat mereka berada di puncak rasa yakin.
INGATAN EMOSI
Setiap manusia mempunyai kenangan. Suatu peristiwa yang tersimpan disebabkan rasa sentuh yang dalam pada hati dan pikiran yang suatu ketika akan kita hadirkan pada moment-moment tertentu. Kenangan kadang seperti madu dari kepahitan pengalaman baru untuk penawar ragu-ragu/rasa tak percaya diri. Atau buku yang pernah kita tulis lalu kita baca bersama dalam suasana pertemuan. Kenangan adalah simpul rasa. Rasa pahit atau manis dari perjalanan hidup manusia. Manusia tetap mempunyai kenangan meski berusaha membuangnya. Otak manusia adalah alat perekam yang berukuran tak terhingga untuk menyimpan segala. Pengalaman seluruh indra direkamnya secara otomatis. Di dalam kenangan ada ingatan. Ingatan adalah sub-sub dari kenangan. Seperti potongan-potongan gambar di pita film. Atau bingkai-bingkai photo di sebuah kamar. Kenangan ibarat sebuah atom, dan ingatan seperti proton dan elektron.
Emosi terdiri dari beberapa macam. Bisa berupa: marah, sedih, gembira, terkejut, menolak, melecehkan, takut, berani, dan kosong tanpa emosi dan sebagainya. Unsur-unsur ini sedikit-banyak pernah dialami semua manusia. Ingatan emosi inilah yang dihadirkan kembali ketika eksekusi terjadi. Ingatan emosi ini akan muncul semurni seperti bagaimana dahulu kita merasakan. Jujur tanpa kepura-puraan. Seadanya tanpa dilebih-lebihkan.
OBSERVASI
1. KEBENARAN UMUM
Berbagai macam peristiwa terjadi di sekitar kita. Dan actor adalah perekam dan pencatat juga merekomendasikan kepada masyarakat nilai yang ia simpulkan. Kejadian dan aksi-reaksi dari peristiwa itu adalah pengulangan harmoni dari lagu kehidupan. Aksi dan reaksi dari hasrat/keinginan manusia dan faktor penghalang. Aktor adalah pengamat kehidupan. Mengenal dan memahami konflik dan ketenangan. Histeria juga keheningan. Walau ia bisa memutuskan, tapi ia bukan hakim yang memvonis. Ia melihat dari segala sudut pandang. Meneliti sejarah dan mempelajari proses pembentukan ”menjadi” setiap masalah. Selanjutnya aktor akan merekontruksi ulang segala karakter/tokoh dalam kejadian sebagai sebuah karya/penciptaan. Hasil pengamatannya adalah pelajaran untuk semua bagian. ia seperti pengembara yang menangkup air lautan dengan kedua telapak tangannya. Jelas di kedua telapak tangannya tak ada ombak atau badai. Yang ia lihat adalah riak kecil yang perlahan menjadi tenang kembali. Air laut itu seolah matang di telapak tangan kita. Aktor mengambil nilai dari ombak dan badai. Aktor memahami inti dari riuh-riak histeria dan keheningan samudera kehidupan. Dari pengamatan dan memahami kebenaran umum aktor akan beranjak ke tingkatan yang lain. Yaitu tingkatan kebenaran karya.
2. KEBENARAN KARYA
Akting adalah keindahan karena lahir dari penciptaan. Ia bisa begitu kuat namun juga bisa begitu lentur. Ia perpaduan dari kekuatan dan kelenturan itu. Emosi bukan lagi histeria, namun ketenangan yang total. Segala tingkah laku adalah keintiman, dan suara yang terdengar mampu menghidupkan segala perasaan. Perjuangan aktor dalam memandang, mengenal, mendekati, menilai aksi kehidupan akan diterapkan dalam sebuah dunia kehidupan lain yang bernama panggung/pentas. Dunia panggung/pentas adalah dunia milik bersama yang di dalamnya dipenuhi nilai-nilai keyakinan dan kepuasan bersama. Aktor mementaskan dirinya berkat inti pengalamannya dalam kehidupan. Ia sebagai salah satu yang hidup dari segala yang mati. Aktor menjadi mutiara yang dari kerlapan cahayanya berkerjapan nilai-nilai kehidupan. Keindahan Aktor adalah sungguhan. Bukan keindahan imitasi. Ia daya ungkap dari moralitas dan publikasi hidup manusia. Setiap aktor adalah peran utama dari pentasnya.
..Bersambung....
Jakarta, Februari 2008
Dadi Reza Pujiadi
* Sekarang masih bergiat di Teater Populer Jakarta, sempat singgah di Bali dari tahun 2003 hingga 2007 dan membina teater La Jose SMAK Santo Josep Denpasar. Mendirikan Teater LAH Denpasar pada tahun 2005.
Diposting oleh
tomo
di
19.32
0
komentar
Selasa, 05 Februari 2008
Kenapa telat update?
>> weew <<
Pembaca yang budiman,
Maapkan kami bila ada ketelatan up date...
why?
begini..
akhir bulan Januari kemarin, kami - personel kelompok 108 (satu kosong delapan) - terlibat pembuatan film tentang penanggulangan bencana. Film ini disutradarai oleh Ian White (Australia) dan digagas oleh Yayasan IDEP. Total syuting di Bangli tepatnya banjar Buungan!
Syutingnya mah cuman dua hari, tapi pra produksina..wew bolak balik Denpasar-Bangli satu mingguan lebih!
xexexe jadi artis neh yaaaa...
Yap! nantikan ajah filmna di kota tempat tinggalmu!
terus apa lagi?
Kami sekarang sedang nyiapin kolaborasi dengan Yonas Sestrakresna (Videomaker), sejumlah musisi dari Belanda serta artis dari Polandia untuk mentasin part V Waktu antara Kau dan Aku yakni Synthetic Age!
Weeew
Terus tanya dong kapan latiannya?
Iyah..kapan latiannya? dimana?
Latiannya tiap hari minggu di Art Centre!
>>>>>>>>
Mencari kemungkinan!
Diposting oleh
tomo
di
18.28
0
komentar
Blognya Sahabat
Aksi minimalis Blackfogs Andy Padang the motivator! aRya Gothic Ayip Matamera Bilal Furqoni Bintang Bermusik Bonekanya Dian Car Insurance Dedi Dolrosyed Craig Says Digital Polaroid Dr Dree Spesialis Mata Fanty as Drama Queen Free Tips for You Kata Heru Live lovenya Oecan love-dollar mas ncEp Mangkok Bali Mediax Yonas Sestrakresna the videomaker Tatiana Browniestone Rais Blajar Terus Slugger skater Satya Natherland Rumah Tulisan Plinplan n cute Penyair Wayan "Jenki" Sunarta Pak cik Teranung di Jiran Ratih Indrihapsari Dayu Cute Puisi Selaksa Jiwa Bams Rendesvouse Penyair Riki Damparan Putra Saichu Soulidaritas Dadap Blog Learning English Pojok Waroeng Kopi Tenggarong23 Etavasi Blogkita-Bandungblog Civil Engineering Bagus Batam Hidup Belajar Nara Chill Lounge Music Neo Kid on the Blog Love-sex and Marriage New Music Update Retchel 1980 Craig Says Marilyn Kate Soraya City Adek Campur Campur Pinay Mom in Czech Hideout Gateway Gles Moch Satrio Welang
Teater Topeng SMAN 2 Denpasar
Intan Ivanna John
Teater Rumput SMKN 1 Denpasar
Robby