Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Senin, 15 Oktober 2007

Lebaran Kakak Teater

>>Surat dari Abu Bakar di USA<<


Tomo.
Karena kupikir kau Islam maka kepadamu ucapan Lebaran itu kukirim. Setidaknya dalam dugaanku kau bukan Hindhu bukan Kristiani apalagi Budha maka "gebyah uyah" meleset juga tak apa. Artinya melihat tingkah polahmu prosentase Atheis juga tinggi ada padamu, seperti aku. Jelas dari pengamatan Google Earth kurusmu tak terlihat di lapangan Puputan itu dalam jajaran mereka yang ikut solad Ied. Jadi sekali lagi selamat Lebaran maaf lahir bathin. Kepada teman-teman lain yang juga punya nama "bau-bau" aku minta maaf, sekalipun sejujurnya aku amat meragukan efektifitas greeting macam begitu. Khawatir jatuhnya cuman basa-basi. Sebab bertumpuk dan menggunungnya kesalahan dan kejahatanku tak bisa diselesaikan hanya dengan satu uluran tangan, tak selesai dengan seribu maaf seribu lebaran seribu bathin. (baca baik-baik nyelenehku ini. Saat beragama hanya jadi hiasan mulut belaka gitu kurang lebih hasilnya. Dan aku bagian dari kerusakan itu).

PSR.Tulisanmu tentang aktifitas teater di PSR itu aku baca. Bagus. Kau memang kakak yang baik, ngemong. Runut kau catat kegiatan demi kegiatan, waktu, nama grup, kekurangan dan keunggulan. Dan sebagai kakak yang baik pastilah macam basa-basi Lebaran di atas, dalam posisi "kakak" kepada mereka kau ucapkan selamat "jika adik-adik bisa bergiat terus, kakak yakin dalam waktu yang tak lama pulau kita ini akan jadi pulau teater."

Aku tak ikut tanggungjawab atas harapan besar itu. Harapan besar itu hanya ada dalam kepala pemimpi, pemimpi teater. Artinya begini. Teater dalam arti sebenarnya tak bisa direka begitu enteng atau sebaliknya dibuat seram sebagai sesuatu target yang sukar dicapai. Tetapi aku melihat kecendrungan formulasi (dan yang ini dibuat oleh generasi kalian para kakak-kakak anak-anak SMP-SMA itu) bahwa teater kita mengarah ke mimpi mereka, ke khayal mereka, kegagalan hidup mereka ke arah identitas ketokohan mereka. Mereka itu siapa maka bongkarlah isi kepala mereka, lihat isinya. Isi itulah yang mereka mainkan yang kita tonton yang tiada lain tiada bukan adalah wajah kemelaratan teater kegamangan teater "yang" tak mampu menggapai langit tapi berpijak di bumi pun tidak. Setidaknya kepada pak Bandem (untuk kebutuhan bukunya) yang kebetulan juga sedang berada di Massachusetts aku bilang begitu sekalipun tak persis begitu. Gemas dan putusasa itulah perasaanku tiap kali nonton pementasan kalian. Maka sungguh aku terheran-heran membaca tulisanmu yang mengesankan perkembangan teater remaja di Bali, baik-baik saja adanya bahkan sedang ngetrend ke arah kemajuan. Pemilihan naskahnya kek, kreatifitasnya kek, keberaniannya kek amat benderang. Artinya haruslah ditafsirkan bahwa bukanlah aku orang pertama yang berpendapat begitu. Sebabnya jelas basa-basi Lebaran itu punya nuansa juga untuk ...... nah macam Nuryana itulah contohnya.

Resensi-resensi teaternya selalu menampailkan wajah baik seorang kakak yang mendidik. Dia menghindari kata "buruk" sebab pilihan kata "ada harapan" lebih bersifat mendidik. "Gagal" belum berhasil, "kurus" belum gemuk. Hasilnya adalah duka nestapa kesesatan. Aku tidak. Buruk ya buruk. Gagal ya gagal, kurus ya kurang makan, begitu jelas "seharusnya" sikap yang kita pilih untuk membuat adik-adik kita tak tambah jadi tersesat. Kita boleh tak sependapat. Dan mungkin itu baik agar kompetisi pencarian bisa berlangsung terus.

Tetapi diluar penyakit identitas itu kapankah kita kau Hendra-Warih Jajak GM, Mas Rus, Cok Lies Andika P. Satria Nanoq dll. berhenti menjadi kakak capek muak sebagai kakek dan mengubah diri jadi ...... nah, kukira itu yang seharusnya kita buat. Saat kita masing-masing belum bisa membuktikan kebagusan teater kita, lalu hak apa yang kita punya "mengajari anak-anak sekolahan itu ABC-nya teater sementara yang menyelinap dalam diri kita adalah sekali lagi identitas diri?

Jelasnya basa-basi Lebaran itu lepaskan. Kalau perlu didorong ke neraka, dorong saja teater Bali masuk neraka. Posisi kakak copot, mulut kunci, mulailah merayap dari nol untuk teater kita. Itu lebih bagus ketimbang masturbasi kayak sekarang.

Sakitku ini silahkan upload ke Blog http://modernbalineseteater.blogspot.com/ kau punya. Siapa tahu amarah teater bisa kita mulai dari sini.

Selamat jadi dokter ayam Veterinary.
Hormatku padamu.
Abu.

Jumat, 28 September 2007

Book Launch

A Terrible Beauty: on Being in Bali by Ray Harding

Renowned Australian playwright, Ray Harding, explores the life choices of young people exposed to Americanised culture. What was said of the Ancient Romans can be said of current Americanisation: "they created a desolation and called it peace". Through Balinese mythology, artmaking, geography and recent history, the play reveals that ignorance is not bliss. A Terrible Beauty helps us look at and debate such propositions. Published by Charles Sturt University Press.
For the first time, this book was introduced to the Balinese people at the time of Ubud Writer Reader Festival 2007. Took place in Lamak Restaurant Ubud on September 27, the theatre Satu Kosong Delapan Denpasar played one short part the play.

Selasa, 30 Januari 2007

WAKTU ANTARA KAU DAN AKU

Mozaik Kehidupan Ala 108

Catatan Pentas Kelompok Teater SatuKosongDelapan
21 Januari 2007

Oleh: Jauhar Mubarok *


Suasana hening dan gelap. Samar-samar temaram lampu memberi terang. Kemudian terlihat gunungan besar bergambar Semar dan Togog menancap di tengah panggung. Sedang di kanan-kirinya berjajar empat pemain yang dibalut kostum ketat sewarna kulit berpose bak wayang kulit. Suara mantra keluar dari mulut seorang pemain yang sedari awal berada di depan gunungan, kemudian dia menggerakkan gunungan tersebut laiknya sang dalang membuka sebuah pertunjukan wayang. Suara gemuruh gunungan dari seng memecah keheningan menandai jagad pewayangan telah dibuka dan dimulai.

Tidak berapa lama dua pemain laki-laki dan perempuan muncul dari balik gunungan dengan gerak teatrikal yang ritmis dan dinamis bak dua orang yang sedang dimabuk asmara. Berkejaran, merayu, memadu kasih, serta memintal asmara di taman kahyangan. Empat pemain yang sebelumnya berjajar mulai bergerak mengelilinginya. Suara riuh-gemuruh keluar dari mulut mereka mengiringi “persenggamaan” dua sejoli tersebut.

Persenggamaan yang tidak semestinya menyebabkan kelahiran yang salah. Empat orang pemain menari dengan memadukan gerak breakdance dan silat. Gerakan liar dari para pemain menyerupai gumpalan daging yang terus bergerak. Lamat-lamat terdengar Sri (Rika Puspasari) melantunkan kidung, “Singgah-singgah. Kulo singgah, tan suminggah. Durgokolo sumingkiro”. Sebuah kidung tolakbala yang biasa dilantunkan oleh masyarakat Jawa untuk mengusir demit dan danyang agar tidak mengganggu anak-anaknya.

Sri, sebagai sosok ibu dan perempuan Jawa dididik untuk sabar dan ngopeni. Begitu juga ketika memomong anak-anaknya Sri melandasi seluruh tindakannya dengan rasa asah, asih, dan asuh. Dan dia mendidik anak-anaknya sesuai dengan tradisinya. Tari- tarian tradisional dan etika Jawa diajarkan kepada anak-anak yang baru saja dia lahirkan. Dengan gerakan yang terbata anak-anak mengikutinya, namun itu hanya sebentar. Selanjutnya mereka lebih suka dengan gerakan yang tidak terarah dan penuh canda. Sri tahu zaman telah berubah sesuai ruh waktu yang membentuknya. Gunungan yang semula bergambar Semar dan Togog berganti dengan gambar kartun Sinchan dan Dora yang menandakan perubahan zaman. Suasana yang semula kental dengan warna tradisi tiba-tiba berubah dengan hingar bingar suasana dugem dan potongan-potongan tayangan televisi yang tidak asing bagi penonton. Cuplikan telenovela, berita kriminal, infotainment, iklan, ajang pencarian bakat, hingga permainan sepakbola disuguhkan secara satire.

Suasana “cerewet” yang tampak sebelumnya, berubah mencekam ketika suara “bunuh! Bakar!” keluar dari mulut para pemain. Satu per satu para pemain terlilit oleh pita kaset yang kusut. Suasana terlihat bertambah kacau saat angka-angka menghujani panggung lewat proyeksi LCD proyektor. Para pemain seakan menemukan permasalahan-permasalah sosial dari gulungan pita kaset kusut. Kata-kata ekstasi, korupsi, kolusi, nepotisme, illegal loging, aborsi, sek bebas, konsumerisme, kapal tenggelam, pesawat hilang, hingga lumpur lapindo muncrat dari mulut pemain.

Itulah bagian dari pementasan “Waktu Antara Kau Dan Aku” (disingkat menjadi WaKdA) oleh Kelompok SatuKosongDelapan (108) Denpasar di gedung The Oriental Kuta, Bali. Naskah ditulis serta disutradarai oleh Giri Ratomo, mantan ketua Teater Orok Universitas Udayana sekaligus pendiri Kelompok 108.

Malam itu (21/1) pementasan perdananya dimainkan oleh Rika Puspitasari, Moch Satrio Welang, Andika Ananda, Didit Dudu, Niko Wijanarko dan Haris Lawera disaksikan oleh 300-an penonton. Proyek produksi ke tujuh Kelompok 108 ini direncanakan akan dipentaskan di Solo dan Jogja pada Maret tahun ini.


Pertunjukan Semi –Teater Tari?


Alur cerita WaKdA terdiri lima bagian yang terjalin menjadi satu kesatuan laiknya rentetan kehidupan manusia dan alam semesta; dari tidak ada menjadi ada dan sebaliknya. Bermula dari Genesis (penciptaan alam semesta), Sri yang menjadi simbol bumi yang terkoyak dan dianiaya, kelahiran yang tidak sempurna, individu-individu sebagai gambaran anak-anak yang dibesarkan oleh televisi, hingga zaman plastik yang dimaksudkan sebagai karmaphala.

Pertunjukan yang berlangsung sekitar satu setengah jam tersebut banyak menyuguhkan gerak tubuh yang terinspirasi dari tari tradisi Jawa yang dipadukan dengan breakdance, modern dance dan silat. Kesan harmonis kian terasa dengan alunan musik yang diolah secara manis, meskipun dengan setting panggung yang minimalis.

Yang menarik, penyajian Waktu antara Kau dan Aku mengadopsi unsur pemanggungan wayang kulit, di mana pemain tetap berada di atas panggung sedari awal hingga akhir pementasan. Laiknya wayang, para pemain berjejer sebelum mereka memainkan tokoh yang mereka perankan dan masuk ke balik gunungan saat peran usai mereka mainkan.

Pada tiga bagian awal pertunjukan – Genesis, Sri dan Kelahiran – suasana tradisi masih terlihat sangat kental, baik gerak tari, musik maupun artistik. Sangat bertolak belakang dengan dua bagian akhir pertunjukan yakni bagian individu-individu generasi televisi dan zaman plastik. Penggunaan video art sebagai penguatan artistik yang menegaskan “kekinian” di zaman plastik yang serba palsu, pura-pura dan hedon, ditambah musik live midi, semakin membuat garis jarak “waktu” antara masa lalu dan masa kini.

Bahkan, barangkali Giri Ratomo menangkap keadaan sekarang dan masa depan saat angka-angka menggeser fungsi nama juga identitas orang-orang, sehingga nama-nama tokoh dalam WaKdA digantikan dengan angka-angka. Tidak dipungkiri bila di jaman teknologi seperti sekarang, angka-angka menjadi dominan peranannya. Orang-orang lebih cepat akrab saat saling hapal nomor handphone, untuk menarik rekening tabungan cukup memencet beberapa nomor kode rahasia, harga-harga barang di supermarket ditengarai dengan susunan angka-angka, bahkan kode-kode rahasia di pangkalan militer terdiri dari susunan angka-angka.

Namun sayang ada beberapa adegan yang cukup mengganjal. Misalnya pada adegan tokoh 621 (Niko) yang merepresentasikan budaya tradisional yang “diperkosa” oleh tokoh 69 (Andika) yang kebingungan akan jatidirinya. Menurut saya sebenarnya dengan gerak-tari saja sudah cukup terwakili, tanpa harus mengeluarkan kata-kata seperti orang yang sedang bercinta. Terlalu vulgar. Seolah Giri Ratomo takut penonton tidak mengerti dengan gerak-tari tersebut. Padahal Kelompok 108 nyata-nyata telah mengungkapkan bahwa pementasan ini adalah dance theatre show.

Terlebih pada adegan tayangan-tayangan televisi, kesan teater tari malah tidak ada. Mereka terlalu banyak memparodikannya dengan bahasa verbal. Dan pemain pun terkesan hanyut dan “bergenit-genit” dengan tingkah yang berlebihan setelah mendapat respon (tawa) dari para penonton. Mungkin karena kecewa dengan bahasa serta adegan (lokal) yang tidak dimengerti, beberapa penonton asing (bule) keluar dari gedung pertunjukan saat adegan parodi yang banyak mengumbar bahasa verbal – bahasa yang tidak universal – tengah berlangsung. Bahkan beberapa cuplikan televisi dengan gaya “bercanda Denpasar” saya kira juga tidak cukup meng-Indonesia dan semestinya dibenahi bila hendak ditampilkan di Solo dan Jogja.

Bagaimana pun juga semuanya dikembalikan lagi kepada sang sutradara yang tentunya telah memperhitungkan setiap detailnya untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang “menarik”.

*Pemerhati Teater Modern Tinggal di Denpasar

General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan