Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Jumat, 22 September 2006

Sulit Bermain Teater, Jangan Takut...

Pentas "Nyanyain Angsa" Teater LAH
Jumat 22 September 2006
Oleh: Nuryana Asmaudi

SEBUAH komunitas baru yang menamakan diri Teater Look and Heart (LAH), Jumat (22/9/2006) lalu pentas di Gedung Wantilan Taman Budaya Denpasar. Pada (17/9) juga di halaman SMAK Santo Yoseph, Denpasar. Pentas ini cukup "mengejutkan" kalangan teater di Denpasar. Mengapa?


Pasalnya, naskah yang dimainkan adalah "Nyanyian Angsa" karya Anton Chekov, sebuah naskah teater yang sejatinya cukup berat dan membutuhkan aktor yang kuat untuk memainkannya. Sementara Teater LAH belum memiliki jam terbang. Ini juga nomor garapan pertama kelompok teater yang berdiri tahun 2005 itu.


Berhasilkah Teater LAH memainkan "Nyanyian Angsa"? Jika yang dikehendaki adalah sebuah kesempurnaan, sudah pasti harapan penonton atau publik teater tak akan terpenuhi. Yang pasti, kalangan teater patut men-support anak-anak muda yang baru memulai kerja panggung, yang hanya dengan modal keberanian semangat memainkan naskah yang berat ini. Semangat dan kepercayaan diri mereka itulah yang patut dihargai dan didukung.


Dadi Reza Pujiadi, pemain utama sekaligus sutradara mengakui, pementasan ini hanya bermodal keyakinan dan percaya diri semata. "Saya tahu naskah ini sangat berat, tapi saya tergoda dan terpikat untuk memainkannya. Saya justru ingin menikmati susahnya main. Jadi, saya nekat. Saya yakin saya akan mendapat banyak pelajaran darinya," aku Dadi.


Pengakuan Dadi tentu tak sekadar basa-basi. Seperti nampak dalam permainannya di panggung dalam dua kali pementasannya, Dadi memang cukup payah dan terbata-bata. Biarpun secara teks pemain hafal naskah, hal itu belum mampu membantu keberhasilan pertunjukan seperti yang diharapkan. Mulai dari karakter penokohan, pesan cerita, hingga unsur elemen dasar keaktorannya belum menyentuh sasaran.


Popularitas Semu


Naskah "Nyanyian Angsa" menggambarkan tentang fenomena kehidupan seorang aktor terkenal yang telah lebih dari 40 tahun malang melintang di panggung teater. Ia sangat dikagumi masyarakat penonton teater. Ia selalu dielu-elukan, mendapat tepuk tangan meriah dari para penggemarnya.


Namun, belakangan ia baru sadar bahwa semua itu ternyata hanyalah kepopuleran dan keberhasilan semu: orang hanya menyanjung dan mengaguminya saat main di panggung, sebatas aktingnya. Selebihnya dia tak berarti. Dalam kehidupan nyata ia gagal dan tak dianggap ada. Bahkan hanya untuk mendapatkan seorang gadis penggemarnya yang dia cintai saja ia tak berhasil. Ia gelisah, kesepian, kecewa, dan terjerembab dalam kesunyian yang menyakitkan. Sebuah fenomena kehidupan orang panggung yang absurd dan menakutkan.


Karya pengarang besar Rusia ini memang menantang untuk dipanggungkan. Namun Teater LAH berani melayani tantangan itu dengan kenekatannya. Kedua personel yang memainkannya tergolong sangat muda dan belum banyak punya jam terbang. Terlebih Patrik (pemeran Nikita Ivanitck, orang tua yang jadi pembisik di panggung teater) adalah murid kelas III SMAK Santo Yoseph Denpasar, yang baru beberapa kali naik panggung di teater sekolahnya. Sementara Dadi Reza (pemeran tokoh utama Vasilli Svietlovidoff, komedian berumur 68 tahun), juga masih sangat muda. Selama ini Dadi dikenal sebagai pelatih Teater La-Jose SMAK Santo Yoseph Denpasar.


Karenanya, kalau permainan mereka belum berhasil memenuhi tuntutan naskah dan harapan penonton tentu sangat bisa dimaklumi. Seperti kesan Abu bakar dalam dialog seusai pementasan, dia melihat Dadi lebih berhasil saat menjadi sutradara dibanding menjadi pemain. Tetapi, kata Abu, ada potensi dan harapan yang cukup besar atas suksesnya pertunjukan itu, juga masih banyak waktu dan kesempatan untuk menyempurnakan,pada garapan selanjutnya.


Menurut Abu, naskah ini memang berat. "Saya belum pernah melihat kelompok teater yang benar-benar berhasil memainkan naskah ini," tutur Abu. Seraya menandaskan, sebaiknya penilaian jangan melulu mempersoalkan bagus atau tidak, berhasil atau kurang berhasil, tetapi bagaimana menjaga semangat dan kebersamaan dan menghidupkan panggung teater agar tetap ada.


Pentas "Nyanyian Angsa" Teater LAH di Wantilan Taman Budaya Denpasar malam itu mengalami sedikit perkembangan dari permainan sebelumnya di halaman SMAK Santo Yoseph. Terutama saat memasuki tiga perempat adegan bagian akhir, mulai terlihat greget dan emosi pemain. Patrik juga mengalami perkembangan lebih baik. Karenanya, untuk garapan-garapan selanjutnya, sangat mungkin akan bisa lebih bagus lagi. Terutama pada ilustrasi musik dan lampu yang perlu disempurnakan lagi.

Minggu, 17 September 2006

Pentas Nyanyian Angsa


WAKTU DAN ABSURDITAS CHEKOV

Catatan oleh: Abu Bakar

Sunyi absurd, tepuk tangan absurd, ruang teater yang kosong lebih absurd. Vasili Svietlovidoff – komedian 68 th. yang lebih dari 40 th. hidup menggeluti dunia teater lewat Nyanyian Angsa karya Chekov, akan memaparkan kesunyiannya itu. Sunyi yang menakutkan, tepuk tangan yang menggairahkan hampir jadi ciri khas Chekov bahwa dia jarang memberi kesempatan kita untuk lepas tertawa tanpa menitipi sejumlah luka, hingga yang lahir cuma senyum. Senyum yang sama juga diharapkannya dari penonton saat kita menonton Racun Tembakau komedi lain karyanya. Kesukaan mencampur tragedi dan komedi, dan meramunya dalam struktur lakon yang tak konvensional, membuat pementasan Nyanyian Angsa oleh teater LAH (Look At Heart) kali ini patut disimak. Namun adonan absurd sekarang ini lahir dari tangan Dadi Reza Pujiadi sebagai Vasili Svietlovidoff, yang disamping bermain juga sekaligus menyutradarainya. Sementara peran Promter (pembisik) diambil oleh oleh Patrick Christian Leslie Erlangga. Kecendrungan mana yang akan dia pilih, malam ini kita akan melihatnya lewat NA adaptasi Djohan Nasution.

Tentu kita banyak berharap bahwa LAH akan jadi lokomotif lain yang mampu menggeret gerbong teater Bali bergerak lebih kencang ke alam kubur, atau masa depan yang penuh tantangan.

Wassalam

Abu Bakar


Catatan Sutradara…

oleh: DADI REZA PUDJIADI

Vasilli, saya, dua buah liang berkat…

Apakah saya adalah dia? Ketika Vasili berada di puncak sadarnya, ia bagai angin yang menapikan debu, atau tiupan sangkakala yang sembunyikan suara, ia menolak semua… Ia tak dapat membuang itu. Apa mungkin? Jika mampu, dan punya alasan, dapatkah Vasili lari dari kenyataan yang sekian lama dia bentuk? Dunia yang bernama Teater? Acting yang sudah menyatu dalam napasnya selama 40 tahun? Dapatkah ia sangkal?

Saya boleh sesekali atau lebih bersumpah serapah atas secuil penderitaan yang kadang datang bersama sangsi, atau tersenyum dengan luka tak pernah mau berhenti tersenyum. Namun inilah pilihan sesungguhnya. Saya tak mau berbohong, saya tak mampu berbohong, tak mampu…

Ah, saya memang sudah jadi dia. Toh, seperti Vasili saya sudah merasa sok gagah di usia muda.

Membaca naskah Nyanyian Angsa membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Lakon ini tak pernah membuat saya berhenti tersenyum. Senyum penderitaan Vasili bertransformasi ke dalam bayangan saya. Mabuk, usia tua, terbuang, semangat…

Lakon ini pun tiba-tiba membuat saya mencoba meneropong dua buah liang yang selama ini menjadi berkat saya di dunia. Tentu saja. Manusia lahir dan mati. Keluar dari liang rahim telah menunggu liang kubur. Itulah berkat saya, dan saya merasa punya keinginan berguna. Menjadi berharap, setelah nikmatnya air tetek ibu, di liang lain telah menunggu sungai susu...

Vasili berada di liangnya, yang juga liang saya. Saya merasa terkurung, saya juga jatuh cinta, sekaligus sangsi. Tapi semangatLah membuat saya percaya…

Salam

Look At Heart


Latar Belakang

Hubungan antara karya pentas dengan masyarakat layaknya harus seperti hubungan dua orang sahabat. Saling menjaga dan mengisi kekurangan, dan terutama pengertian. Tanpa kita sadari telah lama hubungan yang dulu harmonis, telah pula renggang, berjalan sendiri-sendiri di tempat yang gelap dan suram. Pentas “Nyanyin Angsa” karya Anton P Chekov terjemahan Djohan A. Nasution, oleh komunitas Look At Heart mencoba menyatukan dan mengajeg-kan kembali kemesraan itu. Isi cerita yang berisi ketakutan-ketakutan akan masa lalu yang jaya, ketakutan terhadap hilangnya kepercayaan dan mungkin, kesepian dapat membuahkan kesan mendalam bagi kita yang hidup di negeri ini. Nyanyian Angsa juga memberi sebuah nilai tentang pentingnya mencintai dan menjaga hidup, agar tak selalu merasa ringkih, tolol, ketakutan dan merasa disia-siakan.


Look At Heart

Look At Heart berdiri di Denpasar, tepatnya pada tanggal 01 April 2005. Sebuah komunitas yang bergerak di bidang kesenian. Khususnya seni teater. Nyanyian Angsa karya Anton P Chekov ini adalah produksi pertama Look At Heart. Lihat Ke Hati. LAH berusaha bijaksana, tanpa pretensi membaca diri sendiri, alam kecil dan alam besar tempat kami berada. Lah adalah inti doa dalam menjaga proses berkesenian kami. Lah, memang harus ada.


Alamat sekretariat: Jl. Teuku Umar, Gang Rajawali no. 8 Denpasar- Bali.
Contak person. 081805672862 (maliana)

Pentas:

- Minggu, 17 September 2006,

di Teater La Jose-SMAK Santo Yoseph,

Jl. Serma Kawi no. 4, Denpasar.

- Jum’at, 22 September 2006

di Wantilan Art center,

Jl. Nusa Indah, Denpasar.

PROFIL

Pimpinan Produksi

Maliana

nia_maliana@yahoo.com

Beberapa kali me-manage pertunjukan teater dan sebagai lighting dalam pementasan,antara lain: Lysistrata (2003), Fragmen Basi Pars Pro Toto (2003), Harga Vagina (2005), Topeng (2006). Pertama kali menulis sekaligus menyutradarai naskah Harga Vagina dalam Parade Temu Teater Perempuan 2005.

Sutradara & Aktor

Dadi Reza Pujiadi

dadireza@yahoo.com

Pengalaman pertama keaktorannya adalah tahun 1987 ketika bermain drama di panggung HUT Kemerdekaan RI di kampungnya, tahun 1989 ikut Sanggar AGA (Anak Gudang Air) yang sering mengisi acara Cerita Untuk Anak di TVRI. Tahun 1996 ikut Diklat Pelatih Teater dan Workshop2 teater. Menulis Naskah Teater, Film. Beberapa naskah pernah ditulis dan disutradarai sendiri seperti: Cerita di Balik Layar (1999), Awas Gajah Di Depan Mata (2000), Kawin Muda (2001), Bashar (2003, Wasiat (2005)), GOL(2005), juga: Lysystrata (2003), Sampek&Engtay (2004), BOSS (2005), AUT (2005) dll. Dia juga bisa menata musik untuk pentas.

Aktor

Patrick Christian Leslie Erlangga

Siswa kelas 3 SMAK Santo Yoseph. Anggota Teater La Jose sebuah komunitas ekstra-kurikuler di sekolahnya. Pernah jadi ketua Panitia Gelar Teater La Jose Se-Bali, pertama kali mengenal peran serius adalah ketika bermain lakon Umang-Umang karya Arifin C Noor, pernah jadi sutradara Lakon Lampu-lampu di Taman karya Mas Ruscita Dewi. Terakhir menjadi aktor pria terbaik 2 di PSR ketika berperan sebagai Rody dalam naskah Pelangi karya Nano R Tiarno. Kali ini ia ditantang jadi Nikita Ivanitch. Prompter yang terjebak permainan tolol Vasili.

Pelaksana Produksi

Navynia Mutiara

Mantan Ketua Teater La Jose yang kini jadi mahasiswa Ekstensi Sastra Inggris UNUD. Pernah terlibat sebagai Aktor dalam Lakon Lysystrata (Teater La Jose) tahun 2005.

Bayu Krisna Adhyatma

emillio_jalero@yahoo.com

Mulai mengenal teater sejak terlibat sebagai crew artistik dalam beberapa produksi di Teater La Jose di awal tahun 2006 sebagai simpatisan. Pernah turut bermain sebagai aktor dalam pementasan drama musikal dan fragmentasi Minggu Pagi Di Sebuah Puisi ( Teater la Jose, 2006)

Artistik

Elvis O. Parluxtond

parluxtond@gmail.com

Bersama sejumlah kelompok teater di Bali sering terlibat produksi baik sebagai penata panggung maupun penata lampu, diantaranya : Death of A Salesman (KelompokSatuKosong Delapan, 2004), Melamar Tuhan, Aku Bukan Perempuan Lagi, Anjing Perempuan, Badan Bahagia (Cok Sawitri, 2003 - 2005), Nyunyann...Nyunyenn (Kelompok RakaRai, 2005), Minggu Pagi di sebuah Puisi (Teater La Jose, 2006) dan beberapa nomor pentas lainnya.

Tata Lampu

Nur Setyanto

Dikatakan sebagai pemuda seperempat abad lebih yang sering bergelut bersama arus listrik, membuat segala ke-bentuk, ke-rupa, ke--- indahnya cahaya. Mau tahu segalanya bersinar…(tukang lampu keliling). Selain bergelut di Teater Air Tanah juga pernah terlibat dalam proses produksi diantarana : Death of A Salesman (KelompokSatuKosong Delapan, 2004), Nyunyann...Nyunyenn (Kelompok RakaRai, 2005), Minggu Pagi di sebuah Puisi (Teater La Jose, 2006), serta di beberapa bentuk proses produksi dan pementasan di Bali. Tentram dihati.

Tata Musik

Selasa Kliwon

Berdiri akhir 2003, adalah sebuah kelompok musik yang bermarkas di kampus Sastra Jl. P. Nias Denpasar. Dalam kerja kreatifnya, Selasa Kliwon selalu mengusung kebebasan dalam memainkan instrument dan jenis musik terutama dalam nuansa etnik. Pernah terlibat mengawal tata musik dalam beberapa nomor pementasan teater : Harga Vagina (Komunitas BoeKoe, 2005), Drama Reading Waiting For Godot (Tunjung Putih – Ubud Fest.2005), Takoet (SatuKosongDelapan,2006)., selain itu, Selasa Kliwon sering juga meramaikan pentas – pentas musik kontemporer di Denpasar.

Tata Rias & Kostum

Yuanita Ramadhani

Ita.ramadhani@gmail.com

Terlibat dalam berbagai pementasan di Bali dan luar Bali, baik sebagai actor, penata musik, penata rias & kostum serta Stage Manager, diantaranya; Melamar Tuhan, Puitika Melamar Tuhan, ¼ Melamar Tuhan, Aku Bukan Perempuan Lagi, Anjing Perempuan, Badan Bahagia, (Cok Sawitri 2002-2005), Death Of Salesman (Kelompok Satu Kosong Delapan, 2004), Malam Jahanam (Teater Orok Noceng, 2003) , Nyunnyann…. Nyunnyenn (Kelompok Raka-Rai, 2004), Minggu Pagi Di Sebuah Puisi (Elvis O.Parluxtond/Teater La Jose 2006) Harga Vagina (Maliana, 2005), dan beberapa nomor pementasan lainnya.

Properti & Tata Pentas

Obe Achmad Marzuki

obe-am@yahoo.com

Kelahiran. Jakarta 30 Juli 1975 Anak pertama dari tujuh saudara. Dari pasangan (Alm) MH. Thamrin dan Sri Maryati ini sering membatu kawan – kawan kesenian ketika di Jakarta maupun di Bali. Belakangan aktif menulis puisi dan melukis.

Agus Juliartha & Mario J. Fony

Keduanya saat ini aktif menjabat sebagai ketua dan wakil ketua Teater La Jose. Sebagai aktor, pernah juga terlibat dalam beberapa nomor pementasan & happening art Teater La Jose diantaranya : Umang-umang (2004) Pelangi (2005-2006) Minggu Pagi di Sebuah Puisi (2006).

Still Camera

N.Sinaga

crimudra@yahoo.com

Tukang foto keliling. ..

Ipank,emak ku memanggil

Salam kenal, Anak Jakarta yang lagi ber-atmosfer di Bali. Yang dapat tugas dokumentasiin,sering terlibat dalam pementasan teater, mendirikan komunitas Teater Petik di Jakarta dan Komunitas Pemuda Priok. Kini di Denpasar Bali buat Rumah Produksi namanya: Lintang, Bikin film Indie, judulnya “Ketika Anak Urban Membuka Mata” kebetulan yang jadi sutradaranya…..VIVA…!

Sabtu, 01 April 2006

Upaya Mendekatkan Diri Dengan Masyarakat?

Catatan penyelenggaraan pentas seni PSR 2006 di balai banjar

oleh Jauhar Mubarok (jauhar.re@gmail.com)


Pentas seni drama modern antar SMU se-kota Denpasar dalam rangkaian Pekan Seni Remaja [PSR] XXII kembali diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional Kota Denpasar. Untuk tahun 2006 kegiatan ini diadakan di sebuah balai banjar di wilayah Kesiman, Denpasar Timur. Tahun sebelumnya kegiatan ini diadakan di lingkungan sebuah SMU. Kegiatan ini telah menjadi rutinitas yang kehadirannya selalu didamba dan ditunggu, tidak saja oleh SMU-SMU yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler atau kelompok teater untuk unjuk kebolehan dalam dunia teater, tapi juga oleh para penggiat dan penikmat seni teater untuk menikmati dan melihat perkembangannya dari tahun ke tahun, baik secara kualitas dan kuantitas.

Cukup menarik ide PSR 2006 yang diselenggarakan di sebuah balai banjar, di mana banjar merupakan ruang sosial yang sudah sangat akrab dan dekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Dapat dikata banjar merupakan ruang publik yang keberadaannya sangat vital bagi masyarakat Bali. Banjar merupakan ruang interaksi sosial untuk membentuk dan meneguhkan ikatan solidaritas identitas sekaligus sebagai ruang publik yang vulgar akan akses terhadap kreativitas krama-krama banjar. Maka sebuah langkah yang cukup bagus ketika PSR {SMU] 2006 ini diadakan di sana bila hal ini dimaksudkan guna lebih mendekatkan diri serta mempopulerkan seni drama modern kepada masyarakat umum. Selain itu untuk menepis anggapan bahwa keberadaan seni (drama) modern (men)jauh dari masyarakat tradisi. Para pendukung kesenian modern menjaga jarak dengan masyarakat dan menjadi menara gading. Sebagaimana yang terjadi pada beberapa catatan sejarah kemunculan seni borjuis/elit atau tinggi yang dipengaruhi oleh sistem sosial feodal kerajaan pada masa lampau. Para pendukung kesenian elit menganggap rendah kesenian masyarakat awam.

Selain itu juga menangkis anggapan bila banjar hanya membuka diri khusus pada seni tradisi semata. Seolah-olah banjar tidak memberi ruang-peluang terhadap tumbuh –kembangnya seni modern. Seni drama modern sama halnya dengan seni drama tradisi atau dengan kesenian lainnya yang sama-sama berangkat, dimiliki, dan didukung oleh masyarakat, tanpa ada jeda dan batas yang menimbukan klasifikasi rendah dan tinggi.

***

Tidak berhenti di sini saja. Seni merupakan suatu dunia tersendiri yang punya hak atas kediriannya sendiri, yang menjaga jarak dengan realitas dunia serta etika konvensional kemasyarakatn, misalnya. Begitu pula hak atas ke-ruang-an dan segala prasyarat yang representatif untuk mendukung aktivitas keseniannya di mana dirinya berada/dipentaskan. Dan dalam seni pertunjukan, seperti halnya seni drama modern punya tataran ideal terhadap sarana dan prasarana yang mendukung totalitas penampilan. Proporsi ideal kesenian. Misalnya ruang yang lapang dan tinggi untuk setting ruang dan tata lampu pencahayaan, ruang yang terbebas dari gangguan aktivitas lain di luar dirinya, dan sebagainya. Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah balai banjar cukup representatif untuk pementasan seni drama modern yang ideal? Atau memang sebuah kesengajaan pihak penyelenggara untuk melihat kekuatan dan kecerdasan para penggiat seni drama modern remaja dalam mengatasi keruangan yang ada?

PSR merupakan kegiatan yang telah dan (mungkin) akan selalu diselenggarakan setiap tahunnya, tentu saja para penyelenggara harus mempertimbangkan dan memperhatikan sarana dan prasarana yang representatif guna mendukung tumbuh- kembangnya aktivitas kesenian di kalangan remaja. Hal ini agar PSR tidak menjadi kegiatan rutinitas setengah hati yang malas dan hanya menjalankan program kerja; yang penting diselenggarakan!.

Namun di sisi yang lain Bali mempunyai ruang yang cukup representatif sebagai ruang perhelatan kesenian, yaitu Taman Budaya atau Art Centre. Dari papan nama yang terpampang saja masyarakat telah digiring pada pengertian bahwa art centre adalah ruang publik yang khusus ditujukan untuk kegiatan kesenian/kebudayaan. Bukan sekadar papan nama mainan penuh keisengan. Dan sarana dan prasarana yang tersedia pun cukup menarik dan representatif untuk segala macam perhelatan kesenian. Mengapa PSR sekarang dan tahun kemarin yang merupakan kegiatan tahunan tidak diselenggarakan di Taman Budaya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam di atas sering kali terlontar dari antar para pengunjung (publik seni) disela-sela menikmati PSR di Kesiman. Dengan PSR diadakan di balai banjar seolah-olah membiarkan Taman Budaya tidak lagi memiliki arti; membiarkan Taman Budaya tetap lapang dan lengang, tanpa penghuni dan aktivitas keseniannya. Secara tidak langsung “masyarakat” telah menghilangkan nilai fungsionalnya bagi kehidupan manusia itu sendiri, sebagaimana maksud dari pembangunannya yang telah menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Bukankah Taman Budaya dibangun bukan sebatas dijadikan gedung-gedung yang berdiri, setelah itu ditinggal pergi. Menjadi pajangan. Atau memang sudah saatnya Taman Budaya menjadi museum yang tetap berdiri dengan kediriannya yang megah, sendiri, dan mati.

Semoga PSR 2006 ini tidak diselenggarakan di Taman Budaya bukan karena alasan mahalnya harga sewa yang melangit dan elit serta pihak pengelola yang lebih memilih irit (pelit?). Dan bukan pula karena pihak pengelola Taman Budaya takut tempatnya kotor oleh sisa-sisa kegiatan kesenian akibat keengganan penyelenggara membersihkan karena merasa sudah menyewa. Seperti selentingan yang kerap kali mengalir disela-sela menikmati pentas drama modern di balai banjar di Kesiman. Bila selentingan ini benar, maka ini menjadi tanda atas kematian ruangnya.

Taman Budaya bukan lagi menjadi ruang publik yang dapat diakses oleh siapa saja, meskipun dengan tujuan untuk menumbuh-kembangkan kegiatan kreativitas seni. Taman Budaya mungkin suatu saat nanti menjadi ruang kuasi-publik atau malahan ruang privat yang seolah-olah publik. Ruang publik yang hanya dapat diakses oleh pihak-pihak berharta-mampu menyewanya. Taman Budaya akan menjadi sebuah kenangan bagi para penggiat seni dan kesia-siaan maksud para perancang-penggagasnya. Pada akhirnya para penggiat seni (baik modern dan tradisi) harus susah payah mencari ruang-ruang publik lain yang sekiranya dapat diakses dengan keminiman anggaran yang tersedia. Dan beranggapan pentas seni drama modern PSR 2006 diselenggarakan di balai banjar karena alasan untuk mendekatkan seni modern kepada masyarakat, adalah terlalu dini.

Pengalihan ruang pementasan lebih disebabkan oleh “keterpaksaan” yang merugikan para penggiat seni di kalangan remaja. Adalah karena kesadaran untuk membumikan beragam aliran-bentuk seni dalam kehidupan masyarakat. Cukup disayangkan.

Kemudian bagaimana dengan penyelenggaraan PSR tahun depan?.

|re.denpasar.2006

* Jauhar Mubarok, pengamat teater.
Tinggal di Denpasar, berkutat di dunia antropologi. Aktif di pers alternative KONAK. Juga bergiat di pers kampus "Sunari Penjor", majalah antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana.



General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan