Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Selasa, 21 Agustus 2012

BUKAN !!

BUKAN janji
bukan PENTAS DALAM RANGKA!

Grup teater (di Bali) siapa yang berani latihan rutin dan mempersiapkan manajemen pementasan tunggal?? 
Hmmmm
Bukan menunggu ,, menunggu ,, menunggu acara baru ramai-ramai latihan kebut semalam kemudian pentas??
Hmmmm
Teater kampus (Unit Kegiatan Mahasiswa) Teater Orok Noceng Universitas Udayana tak lebih -hanya- Unit Kegiatan Mahasiswa Event Organaizer.
ah ah ah sayang,,,

 Hmmmm
Abu Bakar, Satria Kusuma, Warih Witsatsana, Utay, Moch Satrio Welang?? Waduh waduh waduh bagai kodok di dalam tempayan: NYARING SUARA, JELEK RUPA, KOSONG SONG SONG melompong.

Hmmmm
Apa arti besar suara di dunia maya, kenyataan sepi di dunia nyata??

Salam

Minggu, 20 Desember 2009

>> Teater (lagi) ??<<

Masih beruntung. Bila sampai hari ini masih ada kabar -lewat sms ataupun facebook- bahwa di Bali masih ada pertunjukan teater modern.

yaaaa

Smangat!!

Semangat buat pelaku teater remaja yang masih tetap berjaga dan berkarya.

Rabu, 02 September 2009

PENTAS TEATER

>> MAMA, I AM SORRY <<

Pertunjukan Teater yang digelar oleh kelompok Satu Kosong Delapan, Berjudul "Mama, I am Sorry" yang ditulis dan disutradarai oleh Giri Ratomo. Tanggal Pertunjukan 4 – 5 September 2009 Di open stage depan gedung Kriya Art Center Denpasar. Pukul 20.00 WITA

Lihat Bagaimana Moch Satrio Welang bergelut dalam kebimbangannya memasukkan roh Hamlet, sorang Pangeran Denmark yang ayahnya dibunuh, ditambah pertarungan batinnya akan gelombang pertentangan Fenomena Facebook Exsistensialisnya, yakni fenomena Moch Satrio Welang.

Bagaimana pula kegelisahan sang penyair cantik Pranita Dewi bergelut dalam dunia Seks Maya, sebuah pembuktian akan keindahan tubuh wanita yang diciptakan Tuhan dengan Payudara ranum selaksa buah apel .

Juga Bagaimana perang Batin seorang lelaki ( Yoseph Maulana) yang menghabiskan berhari-hari di depan Komputer untuk mempeributkan Filsafat Bulan, antara Perawan atau Janda. Lalu bagaimana pula para manusia masa kini ( Anna Ulfa dan Inne Meryanti) mengcounter narsisme akan aktualisasi diri, dan bagaimana ekspresi terkejut dan maha bahagia tatkala Sang Nabi Baru, Sang Pembawa Pesan, datang! Dia telah datang, Yang Mulia Google ( Saichu Anwar) yang kata – katanya bak Sabda. Altar musti di siapkan!

Mama, I’m Sorry
Pemeran : Saichu Anwar
Yosep “nCep” Maulana
Moch Satrio Welang
Pranita Dewi
Anna Ulfa
Inne Meriyanti
Pemusik : Bintang Riyadi (Tilbringa Somaren)
Oris Orista (Tilbringa Somaren)
Qting Zulham (Tilbringa Somaren)
Devi Larasati (Layanglayang)
Renald Renaldi (Layanglayang)
Panggung : Didit Maniasa Sonapasma
Penata Cahaya : Curex
Dokumentasi : Jauhar Mubarok (Rumah Dokumen)
Stage Manager : Dedi Dwiyanto
Produser : Kurniawan “Curex” Adiputra
Sutradara : Giri Ratomo

CATATAN SUTRADARA

“Teater; I’m Sorry”

Saya berkali-kali ditanya oleh diri saya sendiri: mungkin ngga sih? Saya jawab: Apa sih yang ngga mungkin. Tapi ternyata tak sesederhana itu. Sebab?
Realitanya, membikin sebuah pertunjukan teater (di Denpasar) makin hari makin megap-megap. Susah napas. Makin sedikit orang-orang yang demen berproses, latihan produksi atau mau mentas. Barangkali anda menyangkal. Lalu anda bilang: tuh nyatanya anak-anak SMA giat berlatih!
Aw aw aw tentu saya akan bilang: Maap, saya lagi ngomongin orang-orang yang sudah berumur. Orang-orang yang dianggap anak-anak SMA sebagai penggiat teater.
Seniman teater! Saya akan terpingkal-pingkal. Kenapa? Sebab realitanya di Denpasar sampai hari ini yang konsisten di dunia panggung ada atau tidak?
Coba lah tengok, ada berapa banyak pementasan teater selama satu tahun terakhir?
Bila, teater remaja lebih bergairah dibandingkan dengan teater umum adalah sesuatu yang pantas disyukuri. Setidaknya masih ada pertunjukan teater dari para remaja. Dan setidaknya – selama pihak sekolah belum membubarkan teater sekolahnya – tentu mereka masih akan terus berpentas.
Yang menjadi pertanyaan berikutnya: para alumnus teater remaja Denpasar sekarang nyungsep dimana? Adakah yang bisa melacak para alumnus teater remaja era 90’an atau 2000’an yang akhirnya menjadi penggiat teater di Denpasar? Yang kemudian konsisten membangun komunitas teater?
Tolong bantu saya mencarinya. Bila belum ada, tolong kabarkan kepada dia bahwa teater Denpasar rindu proses latihan untuk produksi pementasan. Kabarkan juga bila panggung teater Denpasar sudah kangen dipeluk dan dicium.
Lalu muncul pertanyaan dari salah satu tokoh seni pertunjukan Indonesia yang tinggal di Jakarta: Trus, kalo sudah berteater, mau ngapaiiin?

“Mama; I’m Sorry”
Aku berhari-hari sibuk bercinta dengan internet. Sebuah percintaan yang paling memabukkan akhir-akhir ini. Aku membiarkan tubuhku membeku di private room, menjelajahi semesta raya. Aku merasa lebih dekat saat menyapa selingkuhan-selingkuhanku lewat bahasa chatt. Aku lebih merasa di anggap “ada” saat aku bisa menunjukkan diri lewat statusku di facebook, twitter atau friendster.
Ya! Bahkan, aku menemukan agamaku. Aku menemukan nabi baruku. Aku berjumpa dengan tuhanku.

“Sahabat; I’m Sorry”
Bahwa pertunjukan ini mesti tetap terjadi adalah sebuah kesepakatan. Mesti pentas! Saya berharap bahwa ini adalah kesepakatan karena ketulusan. Dan saya melihat betapa tulusnya para sahabat yang terlibat dalam produksi ini. Saya ucapkan terima kasih yang tulus untuk para aktor (Saichu Anwar, nCep Maulana, Satrio Welang, Anna Ulfa, Inne Meriyanti, Eka Pranita Dewi) yang selalu meluangkan waktu di sela-sela kepadatan bekerja mencari rejeki, pak stage manager (Dedi Dwiyanto) dan pak produser (Kurniawan Adiputra) yang selalu menyempatkan hadir menyaksikan dan mengikuti proses kreatif “Mama, I’m Sorry”. Juga terima kasih saya kepada para supporter yang selalu hadir saat latihan; Devi Larasati, Dion, Laura, Dwitra J Ariana, Andika Ananda serta sahabat-sahabat yang belum saya tuliskan di sini.
Saya ucapkan terimakasih kepada Taman Budaya Bali yang telah mengijinkan penggunaan panggung halaman Gedung Kriya sebagai tempat pentas, kepada Satu Garis Community untuk support stage, Rumah Dokumen untuk dokumentasi dan sahabat-sahabat jurnalis.
Mohon maaf yang tulus bila banyak hal yang kurang berkenan.

Denpasar, 010909
drhgiriratomo@gmail.com


>>>>

Selasa, 04 November 2008

Lomba Operet Pelajar
SMA se-Denpasar
(Operetta Festival for Student)

5, 6, 7 November 2008
07 pm till down
at SMAN 2 Denpasar
Jl PB Sudirman Denpasar

Entry pass Rp 7.000
Organized by Teater Topeng
SMAN 2 Denpasar

Jumat, 12 September 2008

Konsep

>> Sedikit tentang Artaud <<

Beberapa konsep teater yang masih membayangi otak kiri saya adalah konsepnya Artaud.

Mencuri dari tulisannya James Roose Evans :
Artaud mulai terlihat dengan gerakan Surealis pada tahun 1925. Kemudian mulai 1927 mulai melakukan pementasan teater eksperimental bersama-sama Roger Vitrac dalam Teater Alfred Jarry. Tahun 1931 saat colonial exhibision di Paris dia tertarik dengan gerakan penari Bali yang kemudian banyak mempengaruhi konsepnya. Tahun 1937 dinyatakan menderita syaraf tidak sembuh-sembuh sampai 1946 dan meninggal 1948.

Teater tidak akan pernah menemukan dirinya kembali kecuali dengan cara memperkaya penonton dengan kebenaran-kebenaran dari gumpalan impian.

Adalah sangat penting sekali untuk dicatat bahwa Artaud memberontak terhadap permainan yang sudah baku dan disenangi pada zaman itu. Dia menghantam teater Prancis yang didominasi oleh kata-kata. Untuk menggantikan puisi kata ia mencoba memperkenalkan puisi ruang dengan menggali penerapan unsur musik, tari, seni rupa, seni kinetik, pantomim, gerak, tembang, mantra, tata lampu dan bentuk-bentuk arsitektur.

Artaud menulis :
Saya sangat sadar bahwa bahasa gerak, postur, tari dan musik kurang mampu untuk menganalisa suatu watak, mengejawantahkan kesadaran-kesadaran perasaan manusia lebih jelas dan lebih tepat dibandingkan dengan bahasa verbal, walau begitu siapa bilang bahwa teater diciptakan untuk menganalisa watak, menyelesaikan konflik antara tugas dan cinta, menggumuli semua masalah penting dan masalah psikologis yang memonopoli teater kita masa kini ?

Untuk menekankan pendobrakannya dengan teater waktu itu Artaud menyarankan untuk meninggalkan gedung pertunjukan.

Pokok-pokok pikiran Artaud tentang teater, barangkali lebih tepat dinamakan teater ekstase dari pada teater kekejaman. Menurut Artaud segala sesuatu yang dia peroleh dari teater Bali adalah perasaan mencekam dan membangkitkan kemabukan sukma yang menggiring kita kepada hal yang paling dasar dari ekstase.

Pengaruh Artaud
Beberapa ide Artaud sebenarnya tidak orisinal. Ide-ide tersebut sebenarnya pernah dirintis oleh Appia, Meyerhold dan Reinhardt.
Visi Artaud tentang teater yang tidak hanya sekedar tontonan telah jauh abad diuraikan oleh Appia:
Bukankah lebih baik kita kontemplasikan sebuah kerja dari suatu hasil karya daripada menghidup hidupkan kembali kesenian ?

Kemudian Craig juga berkata bahwa Teater masa depan adalah teater Visi bukan teater kotbah atau teater epigram.

Gagasan Artaud untuk meninggalkan gedung pertunjukan sebenarnya mengikuti jejak Appia yang telah yakin bahwa seni drama tidak dapat tanpa merubah tempat di mana peristiwa kesenian itu akan terjadi. Gagasan Artaud lainnya yakni menghapus garis antara pemain dan penonton sudah dilakukan oleh Meyerhold dan Reinhardt. Meyerhold juga berulangkali mendemonstrasikan bahwa teater adalah sebuah karya kreatif bukan sekedar ilustrasi sebuah naskah dramatik.

Pada tahun 1924, Artaud menyajikan konsepnya yang pertama, L'evolution du decor yang intinya menekankan pentingnya menggarap Roh dan bukan hurup-hurup teks. Ia dengan tegas menolak teaterikalisasi teater dan mengembalikan teater kembali ke kehidupan.
Para desainer dan penyaji pertunjukan harus mencoba menembus sekat-sekat dan akhirnya mengungkap kehidupan rahasia drama agung dan kemudian menciptakannya kembali sebuah teater di mana orang datang tidak untuk menonton tetapi berpartisipasi aktip secara batin ke dalam pertunjukan.
Pada tahun 1926 dan 1927 saat bergabung dengan theatre Alfred Jarry, Artaud mencoba mengembangkan konsepnya.
Ia mengatakan bahwa pertunjukannya akan menyajikan duka mendalam dan keprihatinan terhadap kehidupan, dengan cara merangsang penonton benar-benar memahami duka dan keprihatinan itu bukan hanya dengan pikirannya tetapi dengan mengalaminya dalam kesadaran mereka dan juga raganya.

Mengutip tulisan Julian Beck :
......Mengapa Artaud menjerit ingin teater kekejaman : sebab Artaud ingin merongrong kita agar kita membuka lebar pintu yang menuju ke sorga berikut. Daerah satu-satunya di mana kita belum dipersenjatai lengkap adalah wilayah sakit fisik, walaupun kita sudah belajar untuk mati suci secara terhormat.
Manifesto Artaud tentang perasaan memanggil kita untuk melakukan penyerangan terhadap panca indera, untuk menciptakan keadaan sadistis di dalam teater dengan harapan pementasan-pementasan demikian akan dihayati oleh penonton sampai dalam dagingnya, dalam usus, dalam mata, di pinggang, di mana saja ia dapat merasa. Dan apabila ia mulai merasa sesuatu, pintu-pintu lain ke pusat perasaan itu akan terbuka. Penghinaan fisik ini oleh rasa sakit yang di alaminya dalam teater menyebabkan penonton fisik tidak dapat menahan lebih lama lagi penderitaan dunia di sekelilingnya…....


Minggu, 24 Agustus 2008

Free Workshop Music!

with Yonas Sestrakresna and friends

Monday, August 25, 2008
3pm till down
@ Seamens Club
Danau Tamblingan 27 Sanur Bali

Kamis, 21 Agustus 2008

Free Screening Movie!

bo Stan brakhage
(Eksperimental movie)
Nanook of the North
(Documentary movie)
by Robert J Flaherty

Saturday, August 22, 2008
@ Arti Foundation
Taman Budaya Bali
Jalan Nusa Indah Denpasar Bali
19.30 wita till down.

Rabu, 20 Agustus 2008

Catatan yang (tak) Terselesaikan

>>Soal Kebutuhan<<

"Saya yakin teater tradisi di Bali tak akan pernah punah," demikian saya katakan kepada teman saya pada suatu waktu di medio 2001. "Oleh sebab itu sebenarnya tidak perlu muncul kekhawatiran yang berlebih terhadap ancaman teater modern."

Wadaw..koq jadi serem begono?

Ini memang agak menyeramkan saat ngomongin "tradisi" dan "modern" dalam seni pertunjukan di Bali. Sepertinya dua hal tersebut adalah sesuatu yang saling (sangat) bertolak belakang dan tak (akan) pernah bisa bertemu. Tak mau bertegur sapa. Saling mengintip dan melirik.

Seringkali orang-orang di seni pertunjukan "modern" berkeluh dan bersungut-sungut di belakang punggung pemerintah dan masyarakat. Yang dikeluhkan apalagi kalau bukan masalah perhatian, porsi dan dukungan?

Ada hal yang membikin saya yakin dengan pendapat saya bila seni pertunjukan (teater) tradisi di Bali tak akan pernah punah. Apa itu?
"Seni pertunjukan (teater) tradisi mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan kebutuhan seniman"

Bahwa (menurut saya) seorang kreator memang semestinya mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan kebutuhan individu kreator tersebut.

Seni pertunjukan (teater) tradisi Bali tak bisa lepas dari kebutuhan masyarakat di dalam upacara-upacara keagamaan. Bagi kreator (seniman) sendiri, seni pertunjukan tersebut digunakan sebagai sarana pelepas kepenatan batin. Juga di masa kini, seni pertunjukan tersebut mampu menjawab kebutuhan materiil seniman.

Lantas?

Bagaimana dengan kreator (seniman) seni pertunjukan (teater) modern di Bali?



....



Catatan

>>Yang Terlipat<<

Saya menemukan catatan ini barusan.
Di kertas lusuh ini tertulis tanggal 10 September 2005 pukul 21.35 wib di Gedung Societit Jogjakarta.

TENTANG GERAK
Mengartikan kata atau kalimat atau huruf-huruf dengan bahasa tubuh tak sesederhana seperti yang kita kira. Meski sesungguhnya dalam keseharian kita lebih banyak "bergerak" daripada berkata-kata. Bahkan dalam "diam" pun atau tidur.
Barangkali, pesan memang akan lebih mudah disampaikan lewat bahasa tubuh. Pesan yang saya maksud di sini adalah pesan emosional yang universal.

TENTANG MATA
Mata tetaplah jendela hati seseorang. Dan aktor?
Seringkali kita kecolongan.
Mulut yang berbusa-busa menyemprotkan kata-kata, gerakan-gerakan atraktif yang melelahkan ataupun hal-hal remeh temeh yang dilakukan seorang aktor di atas panggung, tapi dimana mata itu?
: engkau menjadi robot linglung di atas panggung.

TENTANG CETAKAN
Bagaimana bila aktor dicetak sebagai boneka-boneka cantik sesuai dengan selera dan keinginan sutradara?
Lantas bagaimana dengan kadar emosionalnya? Lantas dimana kebebasan aktor untuk memerdekakan dirinya?
Bukankah semua orang berbeda kadar emosinya?

TENTANG KONTROL
Tetap saja seorang aktor semestinya mampu mengontrol semua tubuh dan batinnya di atas panggung. Tetap saja kesadaran adalah faktor yang utama.
Bila aktor semakin mampu mengontrol tubuh dan batinnya di atas panggung, maka semakin baguslah permainannya.

..




Jumat, 15 Agustus 2008

Tentang Kita di Sini

>> Kesetiaan kepada siapa? <<

Saat saya dan anda - yang kebetulan - sampai hari ini masih mengingat nama ''teater, drama, dunia panggung, bermainmain" di dalam otak, muncul pertanyaan: kesetiaan ini kepada siapa?

Saya sedang menjawab salah satu kebutuhan saya. Demikian pernyataan saya yang kemudian muncul. Apa itu? ya semacam menjawab kebutuhan batin saya. Sering saya berpikir, andai saya tak manggung, tak mbaca naskah, tak ngobrolin teater maka saya bisa tambah sakit jiwa.

Kata salah satu temen: itu terlalu berlebihan lah. Terus saya jawab: Kalo dibilang berlebihan ya silahkan. Biarin.

Saya belom bisa ngebayangin semisal saya terbelenggu rutinitas ke klinik hewan kepunyaan temen saya yang berasal dari Belgia. Pagi saya nyiapin obat-obatan, ngontrol anjing-anjing dan beberapa kucing yang opname di klinik tempat saya kerja. Baru selesai kontrol, kemudian beberapa pasien langganan saya sudah duduk di ruang tunggu. Mereka antri dengan manis.
Dua orang dari empat pasien saya yang datang itu tamu dari Jepang. Mereka sudah dua bulan ini rutin kontrol Chihuahua nya. Sepasang anjing imut itu sudah dianggap seperti anak sendiri. Sedangkan dua tamu yang lain warga lokal tetangga klinik ini. Rumahnya mungkin dua blok dari tempat saya kerja ini.

Hingga jam 12 saya masih sibuk pegang spuit, stetoskop, duradryl, amphetamin, de el el.

Istirahat bentar, saya balik lagi ngotak atik binatangbinatang luculucu tapi sakit. Sorenya kecapean. Pijetpijetan bentar sama istri saya yang dengan manis selalu menyambut kedatangan saya. Lalu bobo.
Begitu seterusnya.

Lalu, kepala saya tibatiba menjadi berat pada suatu malam. Badan saya pegelpegel.
Aduh. Sialan. saya kembali inget ama panggung.



Tapi, apakah itu juga menjawab pertanyaan tentang kebutuhan orang lain?


Sabtu, 26 Juli 2008

Ketika Jaya Prana – Layon Sari terjebak dimensi

>> Pentas “ Lakon di Layon ‘ memoriam of mantram’ “ Sanggar Poerbatjaraka <<

‘’ Oh Brahman yang agung, aku percaya atman yang dikirimkan kepada manusia akan kembali kepadamu bila atman sudah cukup murni, kemurnian itu aku melihatnya ada dalam diri Jaya Prana, karena itulah yang membuat hatiku sedikit tenang…

Maka malam ini aku haturkan sesaji agar harum bunga dan asap dupa menghantarkan jiwanya yang murni kepadamu,tapi hati ini tidaklah bisa dibohongi. Seandainya hati yang redup ini diberikan sedikit cahaya untuk membuka tabir dibalik semua ini maka aku akan melakukan perlawanan!” (Lakon di Layon : 2008 )

Demikianlah sepenggal dialog Layon Sari dalam Naskah ‘Lakon di Layon : Memoriam of Mantram’ karya Hendra Utay yang juga sekaligus menyutradarai penampilan Sanggar Poerbatjaraka dalam rangkaian Lesehan Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Minggu ( 20/7)

----------------

SUDAH ribuan kali naskah Jaya Prana – Layon Sari , di obrak – abrik, di sadur, dan dipentaskan dalam panggung pertunjukan baik lokal, nasional maupun international. Lagi, sebuah naskah berdasarkan cerita rakyat Bali ini lahir. Hendra utay sebagai penulis naskah Lakon di Layon ‘memoriam of mantram’ ingin bereksperimen mengangkat cerita itu dengan sisi yang lebih humanis. Bagaimana pergulatan batin Layon menentang dewa atas takdir meninggalnya Jaya Prana sebagai wujud sang belahan hati. Jaya Prana dan Layon Sari terlempar ke dimensi lain, ratusan tahun kedepan yang menyebabkan konflik semakin rumit, unik dan terkadang menggelikan. Sejarah selalu berulang, tapi bagaimanakah nasib Layon Sari, sesosok wanita yang terombang – ambing oleh nafsu, kekuasan dan cinta? Utay mengawinkan naskah rakyat tersebut dengan wujud kekinian dengan isu-isu santer yang terjadi di masa sekarang, diantaranya pemilihan Gubernur Bali sampai kasus penyuapan akbar, Arthalita Suryani.

Siluet menampilkan sesosok tubuh di masa lalu, sosok Sawunggaling yang menerima titah Raja untuk membunuh Jaya Prana, di susul dialog inti sawunggaling dan layon sari yang merupakan cerminan kepatuhan pada raja yang menimbulkan konflik pada hati nurani. Layon Sari pun di tampilkan menghaturkan sesaji dan sesembahan atas prosesi meninggalnya jaya Prana

Adegan berikutnya di tampilkan dengan seting ratusan tahun ke depan. Berseting di sebuah rumah pejabat calon gurbernur bernama Jack beserta istrinya bernama Sari yang ternyata mendapat gangguan dengan kejiwaannya. Istri calon gubernur ini mendengar suara – suara aneh, mencium bau dupa, darah dan kerusuhan pun terjadi tatkala Layon Sari merasuki tubuhnya.

Layon Sari yang terjebak dalam tubuh Sari menimbulkan konflik tersendiri tak kala orang – orang di kehidupan sekarang bermunculan. Baik itu tokoh Wijil sang pengacara politik sekaligus tim sukses gubernur sampai tokoh pembunuh bayaran bernama Brewok yang mirip Sawunggaling di masa lalu.

Konflik semakin meruncing di saat dua kehidupan beda dimensi berbenturan. Wijil sang pengacara sekaligus tim sukses sang gubernur terjebak percakapan yang sangat tidak komunikatif dengan Jack yang juga telah terasuki atma Jaya Prana.

Penonton seperti di seret untuk menyelami cerita rakyat ratusan tahun silam. Tetapi dengan bentuk naskah yang segar membuat mereka tidak terlalu kesulitan mencerna bagaimana jalan cerita dan pesan yang ingin di sampaikan dalam pementasan.

Salah satu penonton, Eka Darmartha menyatakan bahwa pertunjukan lumayan komunikatif, segar dan penonton tidak perlu berkerut – kerut untuk menikmatinya. Ditambah saat kemunculan tokoh Wijil yang diperankan oleh Moch Satrio Welang tampil segar di awal kemunculannya. Pertengkarannya dengan Jack ( Eko Widiastomo ) terasa begitu hidup dengan dialog – dialog yang natural besutan Hendra Utay. Kebingungan dan kekalutan Layon Sari yang di perankan Novi Dwi Jayanti berhasil membuat aura pertunjukan menjadi kelabu,suram dan penuh luka terutama di saat Brewok ( Raditya Pandet ) ingin membunuh sang calon gubernur. Lagi tragedi itu berulang.

Kendala teknis pun dihadapi selama pertunjukan berlangsung, seperti permainan lampu yang terbata – bata, kesulitan teknis dengan siluet sistem bongkar pasang, vokal pemain yang masih harus di garap lagi. Dengan durasi kurang lebih satu jam, naskah yang disutradarai langsung oleh Hendra Utay ini dimainkan oleh Novi Dwi Jayanti, Moch Satrio Welang, Eko Widiastomo dan Raditya Pandet sebagai tampilan penutup Lesehan Budaya 2008 Fakultas Sastra Udayana.

Ni Wayan Meliana, selaku ketua panitia berharap bahwa pelaksanaan Lesehan Budaya oleh Sanggar Poerbatjaraka ini dapat membangkitkan tradisi tahunan Fakultas Sastra yang sempat vakum selama dua tahun. Lesehan Budaya kali ini menyuguhkan penampilan teater (Teater Topeng, Teater La Jose, Sanggar Poerbatjaraka) pembacaan puisi ( Moch Satrio Welang, Pranita Dewi dan Komunitas Sahaja ), pentas musik ( Remidy Band, KSDD, The friend band ), obrolan budaya ( Padepokan Seni Lintas Budaya) dan pameran keramik, lukis dan instalasi oleh mahasiswa ISI Denpasar. ( MSW, pelaku dan peminat teater )

Minggu, 15 Juni 2008

Ruang Gerak

>> Pentas Teater Arca Malang <<
Kontributor:
alcaf rifqi (alcaf_pof@yahoo.com)

Sebuah pementasan teater dengan latar belakang kemiskinan yang telah menjerat dan menyiksa bangsa indonesia dipentaskan oleh Teater ARCa Malang. Kemiskinan sudah bukan suatu hal yang asing ada di bangsa ini bahkan miskin telah dibudayakan dengan kata lain bahwa terjadinya kemiskinan karena tidak adanya keseimbangan-keseimbangan unsur-unsur yang ada dalam negara ini.
Tidak adanya keseimbangan tersebut membuat sang objek melakukan hal-hal yang berujung pada "Bagaimana aku bisa hidup untuk esok hari". meskipun tindakan itu nantinya membuat sang objek menjadi subjek dan membuat objek baru yang nasibnya lebih menderita dari objek pertama.

Trafficking, adalah arah pada pementasan kali ini dimana trafficking merupakan salah satu dari sebab-sebab kemiskinan di negara ini. Dan kemiskinan yang berakibat pada trafficking apakah sudah menjadi solusi yang salah ataukah benar kalau kita lihat dari kacamata "turun-temurunnya" kemiskinan yang ada.

Pentas kali ini diselenggarakan oleh teater ARCa Malang bekerjasama dengan teater purbatjaraka fakultas sastra Universitas Udayana Bali yang bertempat di aula parkir fakultas sastra Universitas udayana pada tanggal 15 juni 2008 jam 19.00 WITA

Senin, 26 Mei 2008

[hOt] News

>> Peluncuran Film<<


Film yang berjudul "Saatnya Siap Siaga" akan diluncurkan pada kamis (29/5) mendatang pukul 19.00 di Wantilan Taman Budaya Bali.

Film ini merupakan produksi Yayasan IDEP dan dibintangi oleh warga Banjar Buungan Desa Tiga Kabupaten Bangli serta Kelompok Teater Satu Kosong Delapan. Saatnya Siap Siaga diproduksi dalam rangka meningkatkan pengetahuan, motivasi dan kemampuan masyarakat dalam kesiap siagaan bencana berbasis masyarakat.

Selain acara pemutaran film juga akan ada musikalisasi puisi oleh Teater La Jose dan pembacaan puisi oleh Eka Pranita Dewi.

Acara ini terbuka untuk umum dan tak dipungut biaya.


Semangat!



Selasa, 20 Mei 2008

Parade Teater Remaja se Denpasar

Arti Foundation bekerjasama dengan Kelompok Satu Kosong Delapan
Mengadakan Parade Teater Remaja se Denpasar
Terbuka untuk grup teater SMA/SMK se Denpasar
Disediakan dana hibah produksi

Pelaksanaan kegiatan tanggal 20-24 Juni 2008
Bertempat di Open Stage Puputan Badung



Minggu, 27 April 2008

Negeri Perempuan

>> Pentas Teater Topeng SMAN 2 Denpasar <<

Masih dalam suasana hangat peringatan hari Kartini, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar mengadakan pentas tunggal drama berjudul "Negeri Perempuan".
Bertempat di Open Stage RRI Denpasar Jalan Hayam Wuruk Denpasar pada Sabtu (26/4) pukul 8 malam, drama yang disutradarai Sukmawati ini mendapat sambutan yang hangat dari penonton.

Negeri Perempuan berkisah tentang sebuah negeri yang didominasi oleh kekuasaan laki-laki. Selama bertahun-tahun laki-laki berkuasa, perempuan selalu ditekan dan ditindas. Di negeri tersebut hanya ada satu perempuan yang dianggap berani terhadap laki-laki yakni seorang pelacur. Pelacur tersebut hampir setiap hari mendapat surat yang berisi keluhan dari perempuan. Pada suatu ketika pelacur tersebut membunuh seorang Pak Pos. Keberanian pelacur membunuh laki-laki (Pak Pos) memberi inspirasi bagi para perempuan di negeri tersebut untuk mogok hingga kemudian terjadi suasana chaos yakni pemberontakan dan pembunuhan terhadap raja laki-laki.
Setelah terbunuhnya raja laki-laki, pemerintahan selanjutnya berganti dengan pemerintahan perempuan. Suasana berbalik 180 derajat. Para perempuan yang dulunya tertindas berganti menindas laki-laki. Dan toh, setelah perempuan berkuasa keadaan tidak menjadi lebih baik.

Naskah karya Sonia P. ini adalah salah satu naskah terbaik lomba penulisan naskah perempuan yang digagas Kelompok Tulus Ngayah pada tahun 2005.

Negeri Perempuan garapan Sukmawati ini dimainkan oleh belasan pemain yang masih berusia sangat muda. Kebanyakan pemain adalah kelas 1 SMA.
Bermain di open stage, tanpa bantuan mikrophon/pengeras suara tentu adalah tantangan yang cukup berat bagi para pemain.

Namun, toh permainan Teater Topeng - yang memang mempunyai ciri khas dalam penyajian yakni selalu segar - mampu menahan para penonton untuk tetap diam ditempat hingga akhir pementasan yang berlanjut dengan diskusi.

Selamat!





Selasa, 15 April 2008

Breaking News

>>Hot Hot Hot<<<

Riki Dhamparan Putra akan berbincang tentang sastra Indonesia terkini. KAPAN?
Tanggal 19 April 2008 jam 19.00 wita di Danes Art Veranda Denpasar!

Rencananya penyair muda Bali ini akan berbincang saat acara Launching buku puisi "PULANG KAMPUNG" karya dr Sthira Prana Duarsa.

Buku PULANG KAMPUNG ini merupakan buku kumpulan puisi kedua karya dr Sthira Praca Duarsa. Woow.. hebat juga dokter satu ini yang juga penyair..

Jadi, buat anda yang pas tanggal itu lagi ada di Bali, luanglah waktu untuk berkunjung ke Danes Art Veranda di Jalan Hayam Wuruk Denpasar.

Acara Launching buku ini selain diisi diskusi bersama Riki Dhamparan Putra juga akan diramaikan dengan musikalisasi oleh Komunitas Barak Denpasar.


Makin Rapat!







Selasa, 18 Maret 2008

>> Yang Muda yang Menggigit <<

Buat kamu yang besok ga ada acara n kebetulan lagi tinggal di Bali, bisa nyempetin diri untuk manggang ikan di Danes Art Veranda Jl Hayam Wurk Denpasar jam 7 malem teeng!

Gitu kata Eka" makcong" pimpinan Teater Topeng SMAN 2 Denpasar. Kata beliau, acara keakraban ini diadakan sebagai wadah (xexexe kayak ember ajah) menjalin komunikasi antar teater SMA se Denpasar.

Biar tambah akrab, kata Makcong. Ehm syukur juga bisa dapet cinlok!

Ga cuma manggang ikan, besok malem juga akan ada acara Musikalisasi puisi, baca puisi n monolog juga spontanitas dari teater-teater SMA se- Denpasar!

ayo ayo ayo
keburu ujan!


WooOW

Kamis, 13 Maret 2008

>> Ke Kiri Jalan Terus <<


Senin, 10 Maret 2008





April mendekat

Mei merapat






Selasa, 04 Maret 2008

Teater - PSR - Tempe

>> Catatan Lomba Drama Modern Sekolah 2008 <<

Oleh: dwitra_ariana@yahoo.com


Seorang kawan SMA mengeluh pada saya lewat sms, “Cabang drama modern dalam PSR tahun ini akan dihapuskan, mereka (panitia) sungguh tidak menghargai kreatifitas!”. Begitulah kira-kira inti dari sms-nya. Mereka merasa sangat tidak dihargai berteater karena satu-satunya ajang untuk mengevaluasi hasil proses teater sekolah di Denpasar ditiadakan. PSR yang sudah selama dua dekade digelar memang selalu menampilkan nomor drama modern yang mana selama itu telah dijadikan semacam ukuran kasat mata dalam menilai proses teater sekolah. Meraih juara dalam ajang tersebut mereka anggap sebuah keberhasilan proses mereka.

Saya yang juga pernah mengalami proses berteater sekolah sungguh memahami kondisi yang dialami kawan-kawan teater sekolah. PSR bagi saya adalah pencapaian proses selama satu tahun setelah PSR sebelumnya berakhir. Walaupun ada beberapa ajang lomba sastra yang lain namun drama modern, yang hanya dilombakan saat teater, masih tetap menjadi ajang yang paling bergengsi. Semua teater sekolah mendambakan meraih prestasi tertinggi di ajang tersebut.

Sekali lagi saya sangat paham dengan kondisi tersebut, namun untuk mengobarkan kembali semangat mereka, saya balas dengan: El, kalau kreatifitasmu hanya sebatas PSR lebih baik kamu membeli kedelai lalu olah menjadi tempe kemudian dijual ke pasar atau olah lagi menjadi gorengan untuk dijual.”

Barangkali dia masih bingung dengan apa yang saya maksud. Pesan saya sangat sederhana sebenarnya. Ada pencapaian yang jauh lebih tinggi dari sekedar menjadi juara dalam sebuah lomba, yakni untuk pengembangan diri dimana dalam teater kita belajar hidup atau paling tidak menyiapkan hidup! Bukan semata-mata mengharapkan penghargaan dari orang lain sebagai imbalan proses kita. Sangat sederhana sekali, jauh lebih sederhana dari proses membuat tempe, tak perlu khawatir siapa yang akan membeli atau mampukah kita membeli bahan baku lagi, kedelai mahal sekarang, harus import dari Amerika!
Maaf saya suka ngelantur…

Jika juara adalah pencapaian maka artinya kita lebih mementingkan eksistensi daripada esensi dalam berteater, agak filosofis memang.
Namun bukan berarti saya seorang yang anti eksistensialisme, eksistensi memang penting untuk membangkitkan semangat dalam mengejar esensi. Nanti kita akan bahas hal ini lebih mendalam, maaf, saya ngelantur lagi...

Jadi pada kesimpulannya, bagi saya apapun yang kita lakoni yang terpenting adalah proses. Jika hasil yang kita dapat bukan dari sebuah proses yang mana diri kita terlibat maka bisa dikatakan itu adalah hasil yang semu, tak beresensi!

Saya jadi teringat kalimat Max Havelaar (Multatuli) ketika memimpin sebuah rapat dengan sejumlah pemimpin Lebak: “Petani-petani begitu gembira bukan karena mereka sedang memanen padi tetapi karena mereka memanen padi yang mereka tanam.”



Jeruk Mancingan - Bangli, 240208
*Dwitra "Dadap" Ariana
Videomaker dan Aktifis teater, bergiat di Sanggar Barak. Sewaktu SMA bergiat di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Berharap menjadi Max Havelaar pada suatu saat kelak.


General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan