"Letting go the hardest thing you can do as a parent.
You have to settle with the past, engage in the present, and belive the future"
kau mesti sudahi masa lalu, mengikuti masa kini dan percaya akan masa depan.
all about modern balinese theatre
Diposting oleh
tomo
di
23.42
1 komentar
>> Tentang Waktu <<
Meski berkutat dengan "waktu" bukan berarti saya lagi narsis dan ngulas balik karya saya yang terakhir "Waktu antara Kau dan Aku".
Tapi ini sungguh-sungguh soal waktu.
Tak terasa, 2007 sudah di ujung tahun dan sebentar lagi pecahlah 2008. Padahal sepertinya baru kemarin tahun 1980. Lalu apa yang akan kita kerjakan di tahun 2008? Masihkah bernostalgia dengan yang telah dilakukan kemarin, bulan kemarin atau tahun kemarin-kemarin?
Bila teater adalah cerminan kehidupan manusia maka semestinya di tahun 2008 akan ada "sesuatu yang baru" di tubuh teater!
Apa?
Entahlah. Barangkali proses kreatifnya, bentuk penyajian, isi, teknik bermain atau apalah. Tentu ini adalah pekerjaan rumah bagi para pelaku teater bila sadar bahwa waktu cepat berlari.
Televisi, handphone dan internet sudah menjadi bagian dari manusia sehari-hari. Perubahan terjadi hampir tak terkendali. Lalu?
Ngomongin Teater Sekarang!
Diposting oleh
tomo
di
19.44
4
komentar
>> Semacam kritik <<
Saya pikir bukanlah hal baru saat pelaku teater mengeluhkan bahwa teater tak laku jual. Kemudian ujung-ujungnya menyalahkan: penontonnya yang kurang apresiatip dan melulu itu-itu saja, sponsor enggan mendekat dan pemerintah yang tak pernah mau menggubris.
Benarkah faktor kesalahan ada di pihak masyarakat, sponsor atau pemerintah?
Mari kita telisik satu persatu.
a. Masyarakat
Pada dasarnya masyarakat butuh tontonan. Tengoklah di pasar-pasar tradisional saat tukang jamu dan sulap membikin atraksi, tak sedikit orang berkerumun untuk melihat. Lihat juga betapa masyarakat begitu semangat nonton pertunjukan-pertunjukan seni tradisional. Juga beberapa kelompok teater profesional yang "telah berhasil" menggaet massa fanatiknya dan membuat tiket box habis terjual.
Jadi benarkah masyarakat yang salah?
Atau pelaku teater sendiri yang lemah?
b. Sponsor
Asumsi bahwa pihak swasta selalu memperhitungkan untung dan rugi barangkali itu benar. Saya pikir wajar saat seseorang memberikan sesuatu maka dalam hitungan bisnis sangat diperhitungkan; apa keuntungan yang dapat diperoleh oleh saya?
Seberapa besar pengaruhnya bagi omset, saat saya - sebagai sponsor - mensponsori sebuah pertunjukan.
Tentu pihak swasta akan sangat mempunyai banyak pertimbangan saat menyetujui untuk mensponsori sebuah pertunjukan.
c. Pemerintah
Asumsi bahwa pemerintah tak mau menggubris seni pertunjukan saya pikir tak selamanya benar. Saya pikir disetiap pemerintahan baik kota, kabupaten, propinsi maupun pusat menganggarkan dana untuk kesenian. Meski pada ujungnya tak maksimal keluarnya dana dan terkadang hanya dikeluarkan untuk membiayai "seniman itu-itu saja". Tapi bukankah pemerintah telah mengalokasikannya?
Yang jadi pertanyaan; sejauh mana pelaku teater diketahui kiprahnya oleh pemerintah?
Mending, daripada menyalahkan ketiga "oknum" diatas mending mari kita salahkan "pelaku teater"nya saja!
Kenapa?
Memangnya loe siapa?
Diposting oleh
tomo
di
07.40
1 komentar