Selasa, 19 Desember 2006
Festival Tirtagangga I
Diposting oleh
tomo
di
00.06
0
komentar
Minggu, 29 Oktober 2006
Susahnya Melacak Jejak para Aktor Sekolah
---------------
ADALAH lomba drama modern (LDM), salah satu cabang perlombaan seni modern yang selalu diikutkan dalam PSR. Mengutip pernyataan Ketua Panitia PSR 2006 bahwa ajang ini merupakan program pencarian bibit-bibit potensi dalam bidang seni, maka selayaknya pelaksanaan LDM PSR ini segera dievaluasi ulang.
Secara kuantitas, peserta LDM dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang menyegarkan bagi iklim perteateran sekolah. Betapa tidak, tahun 2006 ini saja ada sembilan SMA dan enam SMP yang mengirimkan dutanya. Dibandingkan dengan peserta LDM tahun 2000, tentu ini adalah indikator yang bagus bagi penggalian bakat dan minat siswa terhadap teater. Sebelum tahun 2000, peserta LDM amat minim. Paling-paling hanya diikuti oleh Teater Angin SMAN 1 Denpasar, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, Teater Tiga SMAN 3 Denpasar dan Teater Antariksa SMAN 7 Denpasar. Sementara Teater Blabar SMAN 4 Denpasar, Teater Wayang SMAN 5 Denpasar dan Teater Enam SMAN 6 Denpasar terkadang turut berpartisipasi dan kadang tidak.
Baru setelah tahun 2001, LDM diikuti hampir semua kelompok teater SMA. Bahkan pada 2003, bertambah satu peserta dari sekolah swasta yaitu Teater La Jose dari SMAK Santo Yoseph. Hal yang mengejutkan terjadi pada 2004, bertambah pesertanya dari SMA Dharma Praja -- meski disayangkan pada tahun berikutnya sekolah ini tidak lagi mengirimkan dutanya.
Hampir sepanjang tahun 2000 hingga 2006, pementasan-pementasan yang disajikan saat LDM menunjukkan gejala kreativitas anak muda yang sangat berbakat. Keliaran-keliaran serta kenakalan positif di usia remaja yang tengah bergejolak tercurah habis dalam bentuk pementasan. Tidak heran, bila orang harus terhenyak saat menyaksikan pementasan dalam LDM ini. Betapa ide kreatif mereka sangat hebat dan pementasan yang disajikannya sangat menarik untuk dikaji.
Berbeda dengan LDM sebelum tahun 2000-an, di mana lakon-lakon yang dipentaskan terus-menerus sama dan terkesan itu-itu saja, maka sejak 2003 peserta boleh memainkan naskah bebas. Adanya kebijakan panitia membebaskan peserta memilih naskah dan tidak terpaku kepada naskah yang disediakan panitia membuat teater sekolah makin berani mencoba ide-ide baru. Seiring dengan hal tersebut, beberapa teater sekolah bahkan berani menampilkan naskah-naskah yang tergolong berat dan biasanya hanya dimainkan kelompok profesional. Pilihan mereka memainkan naskah-naskah baku, misalnya "Kisah Cinta dan Lain-lain" karya Arifin C. Noor, "Pelangi" karya Nano Riantiarno, "Tumirah Sang Mucikari" karya Seno Gumira Ajidarma ternyata bukan pilihan yang sekadar sok-sokan.
Teater Angin SMAN 1 Denpasar dan Teater Tiga SMAN 3 Denpasar dari tahun ke tahun terus bersaing secara ketat untuk mempertahankan gelar terbaik. Tak heran bila kedua kelompok teater ini terus-menerus menjaga kualitas pementasan dan berusaha untuk menyuguhkan pementasan terbaiknya. Beruntungnya ketotalan mereka dalam berteater dan tentu dengan harapan dapat menghasilkan emas, mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah.
Justru yang mengagetkan adalah kemunculan Teater Blabar yang kurang intens menjadi peserta, tiba-tiba pada 2001 berhasil menjadi Penyaji Terbaik I. Sebut juga Teater Antariksa yang sempat mendominasi perolehan emas untuk kategori pemeran pria terbaik selama tahun 2000 hingga 2002. Begitu pula dengan Teater La Jose yang baru pada 2003 menjadi peserta LDM dan pada tahun yang sama menjadi Penyaji Terbaik I dan mendapatkan emas dari Pemeran Wanita Terbaik. Tahun-tahun berikutnya, Teater La Jose tumbuh menjadi grup teater sekolah yang layak diperhitungkan. Tahun 2005, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dalam perolehan penghargaan terbaik nyatanya juga menggebrak.
***
KEMUNCULAN bakat atau potensi keaktoran dan garapan pemain muda dalam LDM ini tak dibantah lagi memang silih berganti, tidak dapat diprediksikan sebelumnya dan makin meningkat. Meski disayangkan potensi keaktoran mereka yang sangat menonjol, sekarang raib entah ke mana dan susah dilacak seiring lulusnya mereka dari bangku sekolah. Pun kualitas pementasan di tahun 2006 kali ini, dari sembilan peserta lomba hampir keseluruhan kelompok teater terlihat berusaha keras menyajikan pementasan terbaiknya. Keberagaman bentuk penyajian menunjukkan betapa sebenarnya semua kelompok teater sekolah mempunyai kelebihan yang menonjol satu dengan yang lainnya.
Pementasan Teater Tiga misalnya, yang memainkan lakon "Tumirah Sang Mucikari" mencoba menawarkan penyajian dengan kekuatan artistik lighting yang memukau. Teater La Jose yang mengangkat lakon "Pelangi" karya Nano Riantiaro lebih mengedepankan kekuatan artistik realis yang sangat detail. Beberapa pementasan teater yang lain memang masih kukuh pada konvensi dramaturgi normatif, meski tidak terlalu didukung oleh penawaran konsep artistik yang matang. Sebutlah Teater Topeng yang memainkan naskah "Tamu Muntaber" atau Teater Angin yang mementaskan "Basur''. Keduanya menggunakan setting artistik dan tata cahaya yang minimalis.
Harus diakui bahwa mereka punya potensi-potensi yang sangat berbakat di keaktoran dan merata dimiliki oleh setiap aktornya. Ibarat batu permata, mereka adalah intan yang belum digosok dengan cermat. Hampir sama juga dialami Teater Wayang yang setia dengan naskah "Raib" karya Gus Martin, potensi besar yang dimiliki para aktornya mesti dikandaskan oleh konvensi baku pemanggungan dengan setting yang kaku. Selebihnya, tetap saja kita pantas memuji mereka yang telah berusaha keras mengolah naskah, mengasah keaktoran dan mencoba menawarkan gagasan artistik maupun tata cahaya. Bahkan, keberanian Teater Antariksa yang mencoba memainkan naskah buatan sendiri adalah hal yang selayaknya tidak dipandang sebelah mata.
***
MENEMPATKAN LDM PSR sebagai ladang persemaian munculnya seniman-seniman teater di masa depan adalah hal yang sangat berlebihan. Bahkan, bermimpi yang paling sederhana pun, misalnya menggugah semangat generasi muda pada seni pertunjukan atau sekurang-kurangnya menjadikan mereka publik penonton teater modern di Bali adalah sebuah mimpi yang tetap susah terbeli. Sebab, untuk menuju cita-cita yang mulia tersebut jelas membutuhkan banyak komponen yang harus dilibatkan.
Sebagai sebuah ekstrakurikuler, teater sekolah memang banyak mengalami kendala yang bertumpuk. Dari masalah regenerasi, waktu dan tempat latihan hingga perizinan kepada orangtua. Belum lagi tuntutan proses belajar mengajar yang mengharuskan siswa berkonsentrasi penuh terhadap mata pelajaran wajib. Bila benar cita-cita mulia PSR adalah untuk mencari bibit-bibit aktor potensial, selayaknya pihak-pihak yang berkompeten segera duduk bersama untuk mencarikan saluran terbaik bagi bibit yang telah ditemukan. Sehingga para aktor berbakat, aktris berpotensi besar dan sutradara hebat yang telah dihasilkan lewat PSR ini benar-benar akan terbina dan akan menjadi manusia yang profesional di bidangnya.
Bila segenap komponen yang ada bisa bersinergi, bukan tidak mungkin, suatu hari akan ada pementasan teater di Pesta Kesenian Bali (PKB) dengan pemain, sutradara dan tim produksi hasil LDM PSR, misalnya. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang paling realistis untuk dikerjakan, sepantasnya para pekerja teater modern Bali optimis dapat mendapat regenerasi teater yang berpotensi. Sudah seyogianya program tahunan Pemkot Denpasar yang sudah berjalan selama 22 tahun ini terus diprbaiki hingga iklim perteateran modern Bali makin bagus dan corak teater modern Bali makin terlihat jelas.
* giri ratomo,
Mahasiswa FKH Unud,
pendiri UKM Teater Orok Unud
Diposting oleh
tomo
di
12.08
3
komentar
Label: Teater Sekolah
Sabtu, 30 September 2006
Nyanyian Datar Wanita Batu
Tokoh teater senior Bali, Abu Bakar, menampilkan Wanita Batu. Secara artistik monolog ini terasa kedodoran dan paralel secara tematik dengan Nyanyian Angsa Rendra.
Sarimin telah kehilangan kedua orangtuanya. Ibunya pulang tanpa kepala dan bapaknya mati dibunuh, entah oleh siapa. Sarimin bagaikan selembar daun yang jatuh dari pohon lalu membatu di dasar sungai.
Derita Sarimin masih berlanjut. Ia dituduh PKI. Sempat berontak tapi sia-sia, karena petugas negara memerlukan laporan administrasi untuk kenaikan pangkat, untuk melanjutkan hidup. Sarimin berontak, mempertanyakan segala sesuatu. Ia menghadapi yang disebut oleh filsuf Kalr Jaspers “situasi batas”, terutama kematian.
Sampai di sini, penulis naskah agaknya enggan berpikir berbelit-belit. Ia enggan mensublimasikan derita fisik ke tataran infrahuman. Lalu, tema yang dibangun sejak awal pun patah begitu saja. Persoalan lalu kembali pada derita fisik Sarimin: luka sebagai pelacur. Sebagai pelacur Sarimin mesti melayani anak sekolah, mahasiswa, sopir, hingga seorang kakek. “Kelamin saya tidak berbentuk kelamin lagi. Ia sudah menjadi mesin,” desah Sarimin dalam ritme orang bersenggama. Dari kelamin Sarimin keluar benda-benda, seperti rantai, bayi mati, plastik yang dilemparkan begitu saja ke arah penonton. Adegan ini berhasil memberi efek kejut pada penonton, tetapi mementahkan pemberontakan eksistensial Sarimin yang sudah mulai terbangun.
Monolog ini dipentaskan di tempat pertunjukan Geok milik seniman Wayan Dibia, di Banjar Sengguan, Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar, pertengahan Agustus lalu. Penataan panggung, pencahayaan, dan kostum bisa dikatakan minimalis. Panggung didominasi kursi kayu ukuran besar dan sebuah balok kayu yang digantung—entah untuk apa. Sementara selama pertunjukan hanya satu-dua jenis lampu sorot digunakan. Demikian juga kostum sangat sederhana. Indrawati hanya mengenakan baju kebaya warna merah dan celana sebatas lutut. “Saya memang suka yang minimalis”, ujar sang sutradara, Abu Bakar.
Hanya saja pernik-pernik properti yang digunakan selama pertunjukan sangat terasa mengganggu. Uang receh yang ditebarkan, rantai, dan bayi yang dikeluarkan dari liang kelamin sampai dengan sosok patung yang terbuat dari kayu yang digunakan berhubungan kelamin sangat mengganggu konsentrasi penonton fokus pada persoalan yang ditawarkan: pemberontakan eksistesialis Sarimin atau sekadar pamer luka.
Abu Bakar mengakui itu. Menurutnya, ia terlalu banyak menjejalkan ide kepada sang aktris, sehingga Indrawati menjadi kedodoran. Ini merupakan pengakuan ironis bagi sutradara sekelas Abu Bakar, karena kritik sama pernah disampaikan Abu pada penampilan Ida Ayu Kade Tresna pada Parade Monolog, di Taman Budaya Denpasar, Mei 1999 silam. Bila ditelusuri lebih jauh, pementasan Wanita Batu bukan saja mengalami kegagapan dalam mengungkapan ide secara artisitik, tetapi juga membuahkan pertanyaan lanjutan: ide apa di balik naskah yang bolak-balik mengalami revisi itu, paralelitasnya dengan Nyanyian Angsa? Sebagaimana Sarimin, Maria Zaitun pun mengalami derita fisik yang bertubi-tubi akibat sipilis yang menggerogoti tubuhnya. Bedanya, derita fisik Maria Zaitun bertransformasi menjadi kenikmatan metafisik setelah ia melakukan persetubuhan mistik dengan sosok lelaki yang dalam interpretasi kritikus sastra A Teeuw diidentifikasi sebagai Kristus.
Sajak Nyanyian Angsa dimulai dengan diusirnya Maria Zaitun oleh Majikan Rumah Pelacuran, “Ini biaya melulu. Aku tak kuat lagi. Hari ini kamu musti pergi.” Maria Zaitun mengunjungi dokter langganannya dan hanya mendapatkan injeksi vitamin C. Ia juga ke gereja tetapi terbentur birokrasi. Maria Zaitun berjalan di tengah terik matahari. Kulitnya mengelupas di aspal jalan. Ia mencoba mengobati diri dengan mengingat masa mudanya. Sampai akhirnya ia bertemu seorang lelaki, ‘Rambutnya ikal dan matanya lebar’ dengan luka ‘di kedua telapak tangan’ dan ‘di kedua telapak kaki’. Mereka bersenggama, dan Maria Zaitun pun ‘berlayar ke samodra yang belum dikenalnya’. Lelaki menyebut dirinya dengan ‘mempelai’. Klimaks sajak itu adalah teriakan yang kini dijadikan judul sebuah buku: “Pelacur dan pengantin adalah saya !!!” Abu Bakar sendiri mengernyitkan kening, angkat bahu, ketika dimintai konfirmasi atas kesamaan tema antara Wanita Batu dengan Nyanyian Angsa. Sejurus kemudian, “Begini, saya tidak suka menjiplak ataupun menyontek karya siapa pun. Ini adalah karya seni. Biarkan dia begitu,” tandasnya singkat.
Lepas dari ragam persoalan demikian, sebagai sutradara senior Abu Bakar masih menyisakan sedikit ‘kebesaran’-nya. Kehadiran M Katib (60) sebagai peran pembantu sangat menghidupkan panggung yang terasa mati. Warga Pemogan, Denpasar, ini terasa alami. Ini mengingatkan kita pada kesuksesan Abu dalam menangani Kaseno saat membawakan naskah Anton Chekov, Bahaya Racun Nikotin, beberapa tahun lalu.
Diposting oleh
tomo
di
20.20
0
komentar
Blognya Sahabat
Aksi minimalis Blackfogs Andy Padang the motivator! aRya Gothic Ayip Matamera Bilal Furqoni Bintang Bermusik Bonekanya Dian Car Insurance Dedi Dolrosyed Craig Says Digital Polaroid Dr Dree Spesialis Mata Fanty as Drama Queen Free Tips for You Kata Heru Live lovenya Oecan love-dollar mas ncEp Mangkok Bali Mediax Yonas Sestrakresna the videomaker Tatiana Browniestone Rais Blajar Terus Slugger skater Satya Natherland Rumah Tulisan Plinplan n cute Penyair Wayan "Jenki" Sunarta Pak cik Teranung di Jiran Ratih Indrihapsari Dayu Cute Puisi Selaksa Jiwa Bams Rendesvouse Penyair Riki Damparan Putra Saichu Soulidaritas Dadap Blog Learning English Pojok Waroeng Kopi Tenggarong23 Etavasi Blogkita-Bandungblog Civil Engineering Bagus Batam Hidup Belajar Nara Chill Lounge Music Neo Kid on the Blog Love-sex and Marriage New Music Update Retchel 1980 Craig Says Marilyn Kate Soraya City Adek Campur Campur Pinay Mom in Czech Hideout Gateway Gles Moch Satrio Welang
Teater Topeng SMAN 2 Denpasar
Intan Ivanna John
Teater Rumput SMKN 1 Denpasar
Robby

