Kami menerima tulisan maupun foto pertunjukan. Silahkan kirim ke tomo_orok@hotmail.com

Selasa, 19 Desember 2006

Festival Tirtagangga I

FESTIVAL TIRTAGANGGA I
22 -24 DESEMBER 2006
TAMAN TIRTA GANGGA
DESA ABABI KECAMATAN DENPASAR
KABUPATEN KARANGASEM
BALI-TIMUR
PENGHORMATAN BAGI IBU
DAN
IBU BUMI (PERTIWI)
(HARI IBU, 22 DESEMBER)
KOMUNITAS TIRTAGANGGA
MEMPERSEMBAHKAN:
SENI MUSIK SPIRITUAL YOGANANDA:
PESRAMAN SARASWATI MAHAPRADNYA
DESA PENYATUR SAREN, BUDAKELING
KARANGASEM
SENI MUSIK TRADISIONAL KARANGASEM:
GENJEK TIRTAGANGGA
CEPUNG SEMALUNG
SENI MUSIK MODERN
(LAGU BERBAHASA BALI):
GADING BAND
PESTA BACA PUISI
ARTAWA, BRATA, COK SAWITRI, KENITEN, MUDA WIJAYA, TUSTHI EDDI, RAKA KUSUMA, REDIKA, SUNARTA , PUDANARYA (Karangasem)
ABU BAKAR (Denpasar), ANGGA WIJAYA (Negara),
GAYATRI MANTRA (Sabha Yowana Denpasar), YASTINI (Tabanan)
Kolaborasi Seni Bali-Lampung:
Sanggar Kerthi Bhuana Lampung-Sumatra
WORKSHOP SENI:
TEATER BALI - MODERN
Oleh:
COK SAWITRI
MEDIA DAN PENGEMBANGAN SASTRA DAERAH BALI
Oleh:
BALI ORTI (MEDIA BALIPOST)
DAN
MAJALAH BURATWANGI (KARANGASEM)
SENI LUKIS:
MADE BUDIANA (Denpasar) , WAYAN REDIKA ( Sanggar Lempuyang Karangasem), SUPENA (Kelompok Galang Kangin, Gianyar)
KOMPETISI SENI LUKIS DAN BACA PUISI
TINGKAT SD, SMP, SMA SE- KABUPATEN KARANGASEM
***************************
English
PReMIeRe
TIRTAGANGGA ART FESTIVAL
DECEMBER 22-24, 2006
TAMAN TIRTA GANGGA
DESA ABABI KECAMATAN DENPASAR
KABUPATEN KARANGASEM
(EASTERN BALI)
“OFFERING TO MOTHER
AND
MOTHER OF THE LAND (PERTIWI)”
(Mother Day, December 22)
TIRTAGANGGA community
PRESENTS:
YOGANANDA SPIRITUAL MUSIC :
PESRAMAN SARASWATI MAHAPRADNYA
DESA PENYATUR SAREN, BUDAKELING
KARANGASEM
TRADISIONAL MUSIC Of KARANGASEM:
GENJEK TIRTAGANGGA---CEPUNG SEMALUNG---RINDIK ABABI
MODERN BALINESE SONGS:
GADING BAND
POEMS READING FIESTA
ARTAWA, BRATA, COK SAWITRI, KENITEN, MUDA WIJAYA, TUSTY EDDI, RAKA KUSUMA, REDIKA, SUNARTA , PUDANARYA
(Karangasem)
ABU BAKAR (Denpasar), ANGGA WIJAYA (Negara),
GAYATRI MANTRA (Sabha Yowana Denpasar), YASTINI (Tabanan)
Balinese-lampung Art Colaboration:
Kerthi Bhuana Lampung-Sumatra
aRt WORKSHOPs:
BALI - MODERN Theater
By:
COK SAWITRI
MEDIA and DEVELOPING BALI LITERARY
By:
BALI ORTI (MEDIA BALIPOST)
And
BURATWANGI Magazin (KARANGASEM)
PAINTING:
MADE BUDIANA (Denpasar) , WAYAN REDIKA ( Sanggar Lempuyang Karangasem), SUPENA (Kelompok Galang Kangin, Gianyar)
Painting and Poem Reading Competition :
Students in Karangasem Regency

Minggu, 29 Oktober 2006

Susahnya Melacak Jejak para Aktor Sekolah

Semarak Pekan Seni Remaja (PSR) Kota Denpasar 2006 baru saja usai. Di PSR yang merupakan program tahunan sebagai ajang adu kreativitas seni antarsiswa tingkat SMP maupun SMA/SMK ini, berbagai cabang kesenian -- tradisi maupun modern -- dipertandingkan. Namun, menengok perkembangannya selama lima tahun ke belakang, apakah PSR semakin dewasa ataukah menurun drastis seperti ajang kanak-kanak yang hanya menggenapi sebuah rutinitas?

---------------

ADALAH lomba drama modern (LDM), salah satu cabang perlombaan seni modern yang selalu diikutkan dalam PSR. Mengutip pernyataan Ketua Panitia PSR 2006 bahwa ajang ini merupakan program pencarian bibit-bibit potensi dalam bidang seni, maka selayaknya pelaksanaan LDM PSR ini segera dievaluasi ulang.

Secara kuantitas, peserta LDM dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang menyegarkan bagi iklim perteateran sekolah. Betapa tidak, tahun 2006 ini saja ada sembilan SMA dan enam SMP yang mengirimkan dutanya. Dibandingkan dengan peserta LDM tahun 2000, tentu ini adalah indikator yang bagus bagi penggalian bakat dan minat siswa terhadap teater. Sebelum tahun 2000, peserta LDM amat minim. Paling-paling hanya diikuti oleh Teater Angin SMAN 1 Denpasar, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, Teater Tiga SMAN 3 Denpasar dan Teater Antariksa SMAN 7 Denpasar. Sementara Teater Blabar SMAN 4 Denpasar, Teater Wayang SMAN 5 Denpasar dan Teater Enam SMAN 6 Denpasar terkadang turut berpartisipasi dan kadang tidak.

Baru setelah tahun 2001, LDM diikuti hampir semua kelompok teater SMA. Bahkan pada 2003, bertambah satu peserta dari sekolah swasta yaitu Teater La Jose dari SMAK Santo Yoseph. Hal yang mengejutkan terjadi pada 2004, bertambah pesertanya dari SMA Dharma Praja -- meski disayangkan pada tahun berikutnya sekolah ini tidak lagi mengirimkan dutanya.

Hampir sepanjang tahun 2000 hingga 2006, pementasan-pementasan yang disajikan saat LDM menunjukkan gejala kreativitas anak muda yang sangat berbakat. Keliaran-keliaran serta kenakalan positif di usia remaja yang tengah bergejolak tercurah habis dalam bentuk pementasan. Tidak heran, bila orang harus terhenyak saat menyaksikan pementasan dalam LDM ini. Betapa ide kreatif mereka sangat hebat dan pementasan yang disajikannya sangat menarik untuk dikaji.

Berbeda dengan LDM sebelum tahun 2000-an, di mana lakon-lakon yang dipentaskan terus-menerus sama dan terkesan itu-itu saja, maka sejak 2003 peserta boleh memainkan naskah bebas. Adanya kebijakan panitia membebaskan peserta memilih naskah dan tidak terpaku kepada naskah yang disediakan panitia membuat teater sekolah makin berani mencoba ide-ide baru. Seiring dengan hal tersebut, beberapa teater sekolah bahkan berani menampilkan naskah-naskah yang tergolong berat dan biasanya hanya dimainkan kelompok profesional. Pilihan mereka memainkan naskah-naskah baku, misalnya "Kisah Cinta dan Lain-lain" karya Arifin C. Noor, "Pelangi" karya Nano Riantiarno, "Tumirah Sang Mucikari" karya Seno Gumira Ajidarma ternyata bukan pilihan yang sekadar sok-sokan.

Teater Angin SMAN 1 Denpasar dan Teater Tiga SMAN 3 Denpasar dari tahun ke tahun terus bersaing secara ketat untuk mempertahankan gelar terbaik. Tak heran bila kedua kelompok teater ini terus-menerus menjaga kualitas pementasan dan berusaha untuk menyuguhkan pementasan terbaiknya. Beruntungnya ketotalan mereka dalam berteater dan tentu dengan harapan dapat menghasilkan emas, mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah.

Justru yang mengagetkan adalah kemunculan Teater Blabar yang kurang intens menjadi peserta, tiba-tiba pada 2001 berhasil menjadi Penyaji Terbaik I. Sebut juga Teater Antariksa yang sempat mendominasi perolehan emas untuk kategori pemeran pria terbaik selama tahun 2000 hingga 2002. Begitu pula dengan Teater La Jose yang baru pada 2003 menjadi peserta LDM dan pada tahun yang sama menjadi Penyaji Terbaik I dan mendapatkan emas dari Pemeran Wanita Terbaik. Tahun-tahun berikutnya, Teater La Jose tumbuh menjadi grup teater sekolah yang layak diperhitungkan. Tahun 2005, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan dalam perolehan penghargaan terbaik nyatanya juga menggebrak.

***

KEMUNCULAN bakat atau potensi keaktoran dan garapan pemain muda dalam LDM ini tak dibantah lagi memang silih berganti, tidak dapat diprediksikan sebelumnya dan makin meningkat. Meski disayangkan potensi keaktoran mereka yang sangat menonjol, sekarang raib entah ke mana dan susah dilacak seiring lulusnya mereka dari bangku sekolah. Pun kualitas pementasan di tahun 2006 kali ini, dari sembilan peserta lomba hampir keseluruhan kelompok teater terlihat berusaha keras menyajikan pementasan terbaiknya. Keberagaman bentuk penyajian menunjukkan betapa sebenarnya semua kelompok teater sekolah mempunyai kelebihan yang menonjol satu dengan yang lainnya.

Pementasan Teater Tiga misalnya, yang memainkan lakon "Tumirah Sang Mucikari" mencoba menawarkan penyajian dengan kekuatan artistik lighting yang memukau. Teater La Jose yang mengangkat lakon "Pelangi" karya Nano Riantiaro lebih mengedepankan kekuatan artistik realis yang sangat detail. Beberapa pementasan teater yang lain memang masih kukuh pada konvensi dramaturgi normatif, meski tidak terlalu didukung oleh penawaran konsep artistik yang matang. Sebutlah Teater Topeng yang memainkan naskah "Tamu Muntaber" atau Teater Angin yang mementaskan "Basur''. Keduanya menggunakan setting artistik dan tata cahaya yang minimalis.

Harus diakui bahwa mereka punya potensi-potensi yang sangat berbakat di keaktoran dan merata dimiliki oleh setiap aktornya. Ibarat batu permata, mereka adalah intan yang belum digosok dengan cermat. Hampir sama juga dialami Teater Wayang yang setia dengan naskah "Raib" karya Gus Martin, potensi besar yang dimiliki para aktornya mesti dikandaskan oleh konvensi baku pemanggungan dengan setting yang kaku. Selebihnya, tetap saja kita pantas memuji mereka yang telah berusaha keras mengolah naskah, mengasah keaktoran dan mencoba menawarkan gagasan artistik maupun tata cahaya. Bahkan, keberanian Teater Antariksa yang mencoba memainkan naskah buatan sendiri adalah hal yang selayaknya tidak dipandang sebelah mata.

***

MENEMPATKAN LDM PSR sebagai ladang persemaian munculnya seniman-seniman teater di masa depan adalah hal yang sangat berlebihan. Bahkan, bermimpi yang paling sederhana pun, misalnya menggugah semangat generasi muda pada seni pertunjukan atau sekurang-kurangnya menjadikan mereka publik penonton teater modern di Bali adalah sebuah mimpi yang tetap susah terbeli. Sebab, untuk menuju cita-cita yang mulia tersebut jelas membutuhkan banyak komponen yang harus dilibatkan.

Sebagai sebuah ekstrakurikuler, teater sekolah memang banyak mengalami kendala yang bertumpuk. Dari masalah regenerasi, waktu dan tempat latihan hingga perizinan kepada orangtua. Belum lagi tuntutan proses belajar mengajar yang mengharuskan siswa berkonsentrasi penuh terhadap mata pelajaran wajib. Bila benar cita-cita mulia PSR adalah untuk mencari bibit-bibit aktor potensial, selayaknya pihak-pihak yang berkompeten segera duduk bersama untuk mencarikan saluran terbaik bagi bibit yang telah ditemukan. Sehingga para aktor berbakat, aktris berpotensi besar dan sutradara hebat yang telah dihasilkan lewat PSR ini benar-benar akan terbina dan akan menjadi manusia yang profesional di bidangnya.

Bila segenap komponen yang ada bisa bersinergi, bukan tidak mungkin, suatu hari akan ada pementasan teater di Pesta Kesenian Bali (PKB) dengan pemain, sutradara dan tim produksi hasil LDM PSR, misalnya. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang paling realistis untuk dikerjakan, sepantasnya para pekerja teater modern Bali optimis dapat mendapat regenerasi teater yang berpotensi. Sudah seyogianya program tahunan Pemkot Denpasar yang sudah berjalan selama 22 tahun ini terus diprbaiki hingga iklim perteateran modern Bali makin bagus dan corak teater modern Bali makin terlihat jelas.

* giri ratomo,
Mahasiswa FKH Unud,
pendiri UKM Teater Orok Unud

Sabtu, 30 September 2006

Nyanyian Datar Wanita Batu

Oleh: Jayakumara, alumni Fakultas Filsafat UGM, Yogya

Tokoh teater senior Bali, Abu Bakar, menampilkan Wanita Batu. Secara artistik monolog ini terasa kedodoran dan paralel secara tematik dengan Nyanyian Angsa Rendra.

Wanita Batu adalah karya monolog yang bercerita tentang luka pelacur. “Nama saya Sarimin. Asal Muntilan,” ujar Indrawati, mengawali pementasan monolog itu. Kalimat ini mengingatkan kita pada bait awal sajak Nyanyian Angsa karya dramawan-penyair WS Rendra, “Maria Zaitun namaku. Pelacur yang sengsara.” Selanjutnya, melalui Indrawati, cerita Sarimin berlanjut.
Sarimin telah kehilangan kedua orangtuanya. Ibunya pulang tanpa kepala dan bapaknya mati dibunuh, entah oleh siapa. Sarimin bagaikan selembar daun yang jatuh dari pohon lalu membatu di dasar sungai.
Derita Sarimin masih berlanjut. Ia dituduh PKI. Sempat berontak tapi sia-sia, karena petugas negara memerlukan laporan administrasi untuk kenaikan pangkat, untuk melanjutkan hidup. Sarimin berontak, mempertanyakan segala sesuatu. Ia menghadapi yang disebut oleh filsuf Kalr Jaspers “situasi batas”, terutama kematian.

Sampai di sini, penulis naskah agaknya enggan berpikir berbelit-belit. Ia enggan mensublimasikan derita fisik ke tataran infrahuman. Lalu, tema yang dibangun sejak awal pun patah begitu saja. Persoalan lalu kembali pada derita fisik Sarimin: luka sebagai pelacur. Sebagai pelacur Sarimin mesti melayani anak sekolah, mahasiswa, sopir, hingga seorang kakek. “Kelamin saya tidak berbentuk kelamin lagi. Ia sudah menjadi mesin,” desah Sarimin dalam ritme orang bersenggama. Dari kelamin Sarimin keluar benda-benda, seperti rantai, bayi mati, plastik yang dilemparkan begitu saja ke arah penonton. Adegan ini berhasil memberi efek kejut pada penonton, tetapi mementahkan pemberontakan eksistensial Sarimin yang sudah mulai terbangun.
Maka, resep Hollywood pun berlaku di sini. Cerita begulir secara linier: Sarimin kawin dengan Doel sembari tetap menjalani profesi sebagai pelacur. Sampai pada suatu titik, ia bertemu seorang wanita tua yang membungkuk dan menyembahnya. Keduanya bersenggama dan Sarimin merasa menikmati dengan sungguh. “Aku orgasmus”, teriaknya. Adegan ini terasa sebangun dengan persetubuhan Maria Zaitun dengan seorang lelaki ‘tegap dan elok wajahnya’ dalam Nyanyian Angsa. Sang suami, Doel, tahu dan cemburu. Lalu ia mati. Sarimin sedih dan— lagi-lagi—pemberontakan eksistensial Sarimin muncul: ia bertanya, mengapa? Tiba-tiba saja Sarimin berubah menjadi tua, beruban. Monolog yang disampaikan selama hampir satu jam pun berakhir.
Monolog ini dipentaskan di tempat pertunjukan Geok milik seniman Wayan Dibia, di Banjar Sengguan, Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar, pertengahan Agustus lalu. Penataan panggung, pencahayaan, dan kostum bisa dikatakan minimalis. Panggung didominasi kursi kayu ukuran besar dan sebuah balok kayu yang digantung—entah untuk apa. Sementara selama pertunjukan hanya satu-dua jenis lampu sorot digunakan. Demikian juga kostum sangat sederhana. Indrawati hanya mengenakan baju kebaya warna merah dan celana sebatas lutut. “Saya memang suka yang minimalis”, ujar sang sutradara, Abu Bakar.

Hanya saja pernik-pernik properti yang digunakan selama pertunjukan sangat terasa mengganggu. Uang receh yang ditebarkan, rantai, dan bayi yang dikeluarkan dari liang kelamin sampai dengan sosok patung yang terbuat dari kayu yang digunakan berhubungan kelamin sangat mengganggu konsentrasi penonton fokus pada persoalan yang ditawarkan: pemberontakan eksistesialis Sarimin atau sekadar pamer luka.
Pementasan semakin menjadi terganggu dengan vokal Indrawati yang datar. Selama pertunjukan ritme vokal Indrawati tidak pernah mengambil nada rendah. Pola ritme vokal Indrawati terasa konstan dengan diselingi hentakan vokal meninggi. Justru dengan pola ritme vokal seperti itu pertunjukan terasa lebih hambar. Indrawati lebih menonjolkan sisi kemarahan orang kalah, yaitu pelacur, bukan pengolahan luka demi peningkatan kadar eksistensial. Ekspresi energi feminin seorang pelacur yang mendayu-dayu untuk mencari pelanggan bisa dikatakan nihil. Singkat kata, Indrawati belum mengolah yang disebut pemonolog Bali Cok Sawitri ‘eksplorasi diam’.
Abu Bakar mengakui itu. Menurutnya, ia terlalu banyak menjejalkan ide kepada sang aktris, sehingga Indrawati menjadi kedodoran. Ini merupakan pengakuan ironis bagi sutradara sekelas Abu Bakar, karena kritik sama pernah disampaikan Abu pada penampilan Ida Ayu Kade Tresna pada Parade Monolog, di Taman Budaya Denpasar, Mei 1999 silam. Bila ditelusuri lebih jauh, pementasan Wanita Batu bukan saja mengalami kegagapan dalam mengungkapan ide secara artisitik, tetapi juga membuahkan pertanyaan lanjutan: ide apa di balik naskah yang bolak-balik mengalami revisi itu, paralelitasnya dengan Nyanyian Angsa? Sebagaimana Sarimin, Maria Zaitun pun mengalami derita fisik yang bertubi-tubi akibat sipilis yang menggerogoti tubuhnya. Bedanya, derita fisik Maria Zaitun bertransformasi menjadi kenikmatan metafisik setelah ia melakukan persetubuhan mistik dengan sosok lelaki yang dalam interpretasi kritikus sastra A Teeuw diidentifikasi sebagai Kristus.

Sajak Nyanyian Angsa dimulai dengan diusirnya Maria Zaitun oleh Majikan Rumah Pelacuran, “Ini biaya melulu. Aku tak kuat lagi. Hari ini kamu musti pergi.” Maria Zaitun mengunjungi dokter langganannya dan hanya mendapatkan injeksi vitamin C. Ia juga ke gereja tetapi terbentur birokrasi. Maria Zaitun berjalan di tengah terik matahari. Kulitnya mengelupas di aspal jalan. Ia mencoba mengobati diri dengan mengingat masa mudanya. Sampai akhirnya ia bertemu seorang lelaki, ‘Rambutnya ikal dan matanya lebar’ dengan luka ‘di kedua telapak tangan’ dan ‘di kedua telapak kaki’. Mereka bersenggama, dan Maria Zaitun pun ‘berlayar ke samodra yang belum dikenalnya’. Lelaki menyebut dirinya dengan ‘mempelai’. Klimaks sajak itu adalah teriakan yang kini dijadikan judul sebuah buku: “Pelacur dan pengantin adalah saya !!!” Abu Bakar sendiri mengernyitkan kening, angkat bahu, ketika dimintai konfirmasi atas kesamaan tema antara Wanita Batu dengan Nyanyian Angsa. Sejurus kemudian, “Begini, saya tidak suka menjiplak ataupun menyontek karya siapa pun. Ini adalah karya seni. Biarkan dia begitu,” tandasnya singkat.

Lepas dari ragam persoalan demikian, sebagai sutradara senior Abu Bakar masih menyisakan sedikit ‘kebesaran’-nya. Kehadiran M Katib (60) sebagai peran pembantu sangat menghidupkan panggung yang terasa mati. Warga Pemogan, Denpasar, ini terasa alami. Ini mengingatkan kita pada kesuksesan Abu dalam menangani Kaseno saat membawakan naskah Anton Chekov, Bahaya Racun Nikotin, beberapa tahun lalu.

General Rehearseal

General Rehearseal
a Time between Us by Teater Satu Kosong Delapan

Exercise

Exercise
Teater Satu Kosong Delapan