>> Begini lah rupa ruparupa<<
Saat saya main tHomoeretus di Jalan depan Museum Bali. Street theatre? Teater jalanan? atau apalah namanya.









Senin, 10 Oktober 2005
tHomoErectus
Diposting oleh
tomo
di
03.14
0
komentar
Senin, 14 Maret 2005
Penuh Semangat tetapi Perlu Pematangan
Oleh: Nuryana Asmaudi
Bali Eksperimental Teater (BET), pada 29-31 Maret 2005 menggelar ''Lomba Monolog se-Bali'' yang dilangsungkan di Aula Kantor Depag Jembrana Jl. Hasanuddin, Negara. Lomba diikuti 16 peserta dari berbagai kalangan mulai dari pelajar SMP, SMA, mahasiswa, hingga umum.
PARA peserta itu adalah Isnah Nur Bintari (Teater 108 Denpasar), Joko Santoso (Teater Matamoe Denpasar), Andika Ananda (Denpasar), Andi Faizal (Teater GOT Denpasar), Hendra Utay (Denpasar), Yetti A Ernawati (Teater La-Jose SMA Santo Yoseph Denpasar), Kadek Sonia Piscayanti (Teater 1000 Jendela IKIP Singaraja), Luh Arik Sariadi (Teater 1000 Jendela IKIP Singaraja), Frans Wisnu Murti (Denpasar), Kefin Shaedy Wonodjojo (Teater La-Jose SMA Santo Yoseph Denpasar), Santyasa Putra (Teater Lingkar SMPN 2 Denpasar), Linda Viviana (Teater La-Jose SMA Santo Yoseph Denpasar), Ayu Diah Laksmiari, Putu Ranita Anggraeni, Yunita Dewi (Galang Kangin SMAN 4 Singaraja), dan Sri Budhi.
Menurut Nanoq da Kansas, panitia penyelenggara, lomba ini digelar atas kerja sama BET dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), peraih juara I nanti akan mendapat rekomendasi untuk pentas di Jakarta dalam acara "Pesta Monolog Nasional" yang digelar DKJ pada Mei 2005. Lomba ini dinilai tiga juri -- Ags. Arya Dipayana (DKJ), Abu Bakar, dan Hardiman.
Hal pertama yang penting untuk dicatat dalam lomba ini adalah semangat para peserta yang luar biasa. Juga tingginya rasa kebersamaan dan kerja sama antarpeserta. Mereka memang bersaing dalam lomba, tetapi dalam menyiapkan pementasan mereka bisa bekerjasama dengan baik. Dari sisi kualitas, secara umum pementasan peserta juga menggembirakan. Mereka setidaknya telah berusaha tampil secara maksimal menurut kemampuan masing-masing, meskipun tak semua pementas berhasil tampil bagus. Maklum saja, rata-rata peserta adalah pemain "pemula" dengan jam terbang yang belum teruji. Hanya beberapa peserta yang telah memiliki pengalaman pentas secara memadai, setidaknya telah beberapa kali pernah main di panggung teater. Apalagi seni monolog agaknya juga belum terlalu dalam difahami mereka.
Menurut para juri, potensi dan bakat para peserta itu belum digarap secara maksimal. Dari sisi pemeranan misalnya, banyak yang kurang mengindahkan unsur elementer sebagai seorang aktor teater misalnya olah vokal, olah tubuh, pembentukan karakter, hingga stamina permainannya. Hardiman, misalnya, melihat sebagian peserta nampak mengalami kesulitan dalam memanfaatkan kelebihan atau kurang mampu mempergunakan potensi dasar dalam dirinya yakni vokal dan tubuh, sebagai alat pendukung sebagai seorang aktor.
Arya Dipayana juga melihat potensi dasar dan bakat rata-rata peserta bagus, tidak hanya sebagai pemain tapi juga sebagai penggagas, misalnya pada beberapa nomor pementasa yang mereka menggarap karyanya sendiri. "Sebagian besar peserta kurang menguasai elemen-elemen dasar dari keaktoran, misalnya teknik bermain, teknik vokal dan sebagainya," tandas Aji. Abu Bakar pun melihat masih banyak persoalan yang dihadapi rata-rata peserta terutama di bidang keaktoran, mulai dari dasar-dasar vocal, tubuh, irama permainan, dan segala yang lain, yang agaknya masih menjadi kendala yang belum bisa diatasi rata-rata peserta.
Kelemahan lain, sebagian peserta masih kurang persiapan dalam penampilannya. Cukup banyak peserta yang mengaku hanya latihan dua sampai tiga kali saja. Bisa dibayangkan, bagaimana ia bisa main dengan berhasil dan memadai? Apakah mereka mengganggap bermain monolog itu gampang, sehingga cukup bermodalkan latihan yang singkat?
Menyutradarai Sendiri
Sebagian peserta juga tampil dengan menyutradari sendiri pementasannya, akibatnya permainannya tidak terkontrol dan tak tergarap dengan baik. Itulah juga yang nampaknya menjadi salah satu penyebab kurang berhasilnya penampilan sebagian peserta.
Abu Bakar menilai perlunya peran orang lain untuk mengontrol permainan seorang aktor monolog. Ia bisa sutradara secara langsung atau pun orang lain yang bisa diajak memonitor permainan saat berlatih. Arya Dipayana juga melihat peserta yang menyutradari permainannya sendiri nampak tidak bisa menjaga permainannya secara optimal. Hardiman pun menilai, menggarap sebuah permainan monolog sesungguhnya membutuhkan sutradara dari orang lain.
Meski begitu, ada satu-dua peserta yang berhasil tampil lumayan bagus. Mereka sudah paham terhadap naskah yang dibawakan hingga menyembulan karakter keaktorannya yang memadai, serta upaya pencapaian estetika pemanggungan yang lebih segar, komunikastif, kontektual, yang enak ditonton dan juga menghibur. Artinya, bahwa di tengah rata-rata lemahnya peserta yang masih harus berkutat dan menghadapi problem dasar keteateran, nampaknya masih ada harapan dan muncul satu-dua yang cukup lumayan bisa dijadikan "pelipur lara", sebagai penampil-penampil yang boleh dibilang cukup berhasil.
Yang melegakan lagi, cukup banyak peserta dari kalangan teater sekolah, SLTP dan SLTA, yang sebagian besar justru nampak agak lebih bersungguh-sungguh dalam penggarapannya. Satu-dua diantaranya pun lumayan bagus penampilannya.
Pemahaman dan Pendalaman
Akhirnya, baik Abu Bakar, Arya Dipayana, maupun Hardiman, mengharapkan pada para peserta agar mendalami lagi tentang monolog. Arya Dipayana, dramawan, sastrawan dan pemusik, yang juga pendiri dan sutradara Teater Tetas Jakarta, yang diberi tugas oleh DKJ untuk menjadi Juri Lomba Monolog di Bali, Makasar dan Lampung terkait dengan Pesta Monolog DKJ tersebut, mengharapkan untuk ke depan para peserta mau menyelusuri jejak-jejak naskah monolog dari awal sehingga tidak memahami monolog sekadar sebagai bermain drama secara sendirian atau one man of teater. "Sementara ini agaknya masih ada kerancuan pemahaman antara kedua hal tersebut," papar Arya Dipayana.
Abu Bakar bahkan mengharap perlu diadakan semacam pertemuan untuk memperbincangkan tentang monolog di Bali ini, agar ada pemahaman yang lebih tepat dan lengkap. Oleh karenanya, sehari setelah lomba diadakanlah acara dialog kecil antara peserta lomba dengan para seniman teater yang kebetulan jadi juri.
Diposting oleh
tomo
di
06.42
0
komentar
Minggu, 28 November 2004
Death of a Salesman
Pementasan Teater 108 Minggu Wage, 28 Nopember 2004
Oleh: Endra Efendi
KELOMPOK Teater Satu Kosong Delapan (108) pada Selasa (23/11) malam mementaskan "Matinya Pedagang Keliling" (Death of a Salesman) karya Arthur Miller di Wantilan Taman Budaya Denpasar. Pementasan yang dimulai pukul 19.30 wita itu cukup mendapat perhatian dari masyarakat -- kalangan siswa, mahasiswa, pelaku dan pecinta teater, serta para akademisi. Pementasan ini berdurasi empat jam.
Pementasan ini merupakan ajang "pemanasan" sebelum kelompok Teater 108 mementaskannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Menurut Giri ratomo, sang sutradara, ini merupakan gladi resik sebelum dibawa ke acara "Panggung Realis Indonesia" yang akan diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 26 November-2 Desember 2004 mendatang.
Naskah "Matinya Pedagang Keliling" bertutur soal tragedi. Tragedi ini berawal ketika Biff Lowman menemui bapaknya (Willy Loman) yang sedang beristirahat di sebuah kamar hotel setelah seharian penuh bekerja menawarkan barang-barang dagangannya. Biff tak sabar untuk berkeluh kesah mengenai nilai ujian matematikanya yang tidak lulus. Biff yakin gurunya itu sangat hormat dan mau memenuhi permintaan Willy. Karena itu, Biff ingin agar Willy bersedia berbicara kepada guru matematikanya mengenai ujian perbaikan, sebab jika tidak, maka Biff tidak akan pernah menamatkan sekolah lanjutan kemudian bersekolah di sebuah universitas yang selama ini ia dambakan.
Kehadiran Biff yang tiba-tiba membuat Willy kalang kabut. Untung saja sebelum Biff membuka pintu kamar, Willy telah menyembunyikan perempuan simpanannya ke dalam kamar mandi. Namun sepandai apapun orang menyembunyikan kebusukan pada akhirnya akan tercium juga, begitupun rahasia "panas" yang disembunyikan oleh Willy terhadap Biff. Dengan perasaan malu, Willy mencoba membela diri dan mengatakan bahwa perempuan yang berada bersamanya itu hanyalah seorang pelanggan setia dan ia kebetulan sedang meminjam toilet di kamarnya karena toilet di rumah perempuan itu sedang direnovasi. Ketika mendengar kata-kata Willy, kontan saja perempuan itu merasa terhina dan diremehkan. Namun akhirnya, perempuan itu meminta Willy agar secepatnya memberikan hadiah stocking baru yang telah dijanjikannya. Willy pun segera mengabulkan permintaannya agar perempuan itu cepat-cepat pergi meninggalkan kamar hotel.
Apakah Biff percaya dengan semua keterangan Willy? Tentu saja tidak. Lihat saja bagaimana Willy begitu mudahnya memberikan beberapa buah stocking baru. Padahal ibunya (Linda Lowman) hanya memiliki satu stocking saja, itupun sudah beberapa kali sobek dan penuh tambalan di mana-mana. Padahal selama ini Linda begitu sabar, setia dan tidak banyak menuntut apa-apa dari Willy karena sebagai seorang istri dan ibu dari kedua anaknya membuatnya kasihan kepada Willy yang saban hari sibuk bekerja sebagai sales -- penjual barang-barang rumah tangga dari pintu ke pintu. Inikah balasan atas kesetiaan dan pengertian?
Semua yang didengar dan dilihat Biff terasa seperti bara api yang akan menghanguskan tubuhnya. Perasaan marah dan kecewa menghilangkan semua rasa hormat Biff kepada Willy. Padahal selama ini Biff selalu menganggap Willy sebagai sosok pria yang terpuji dan sangat dicintainya. Tetapi sekarang, Willy tak jauh beda seperti ular yang licik, jahat dan menjijikkan.
Begitulah perseteruan antara anak dan bapak ini dikemas dalam dialog-dialog yang panjang dan terjalin dengan rapi. Namun sampai Willy tewas, karena kecelakaan saat berusaha mengejar Ben (adik Willy yang sukses), sosok pria yang kerap muncul dalam benak Willy, rahasia "panas" ini tak pernah diungkapkan keduanya.
Naskah ini penuh dengan persoalan, ketegangan yang benar-benar bisa kita lihat dan rasakan sehari-hari di lingkungan kita. Misalnya tentang nasib Willy Lowman yang sudah bekerja selama 36 tahun sebagai salesman pada sebuah perusahaan. Dengan usia yang terus bertambah, mobilitas Willy agak sedikit berkurang sehingga grafik penjualannya makin menurun -- masalah inilah yang kemudian menyebabkan ia dicampakkan, di-PHK, oleh perusahaannya tanpa diberikan penghargaan atau bintang jasa atas pengabdiannya.
Selain pekerjaan, persoalan menyempitnya lahan hijau yang disebabkan oleh pembangunan yang membabi buta menjadi persoalan lain yang diangkat dalam naskah ini. Jika kita flashback 20 tahun ke belakang, mungkin Desa Kuta atau Ubud tidak sesesak ini. Masih banyak sawah dan hutan lindung yang bisa kita lihat. Namun sekarang, pembangunan yang membabi buta itu menjadikan mata kita terasa sakit sebab tak ada lagi warna hijau yang bisa kita lihat, tak ada lagi hawa sejuk dan sinar matahari yang biasanya menyiram hangat tubuh kita. Semua lahan sudah terkepung oleh tembok-tembok beton, sudah terpendar oleh bening kaca dan bayangan apa jadinya Kuta atau Ubud 20 tahun ke depan?
Persoalan-persoalan modernitas pembangunan sangat berkait dengan persoalan sumber daya manusia. Maka dalam naskah ini pula disinggung mengenai persoalan pendidikan sebagai cara untuk meningkatkan sumber daya itu. Pendidikan nonformal, terutama yang biasa terjadi dalam sebuah rumah tangga. Lebih banyak disorot dalam naskah ini seperti Biff (anak Willy), misalnya. Sejak kecil Biff diajarkan untuk selalu menuruti semua perintah orangtua, padahal belum tentu setiap perintah itu mengandung kebenaran. Biff sering diperintah oleh Willy untuk mencuri beberapa batang kayu di sebuah proyek bangunan atau ketika Biff mencuri sebuah bola di gudang sekolahnya. Willy tak pernah menasihati Biff. Dia terlalu memanjakan dan memenuhi semua permintaan anak-anaknya.
Rahasia pendidikan keluarga yang kurang beres ini terungkap ketika Biff dan Willy cekcok, saling menyalahkan dan saling menghujat, "Lihat apa yang telah engkau tanamkan dalam kepalaku, sering sekali aku mengambil barang-barang milik orang lain yang sesungguhnya tidak aku inginkan. Ayah telah berhasil mencetak aku menjadi pencuri!'' kata Biff berusaha menyudahi pertengkarannya dengan Willy sebab ia yakin Willy tak akan terima jika ia dikatakan salah dalam mendidik.
Begitulah Arthur Miller, lewat tokoh Biff secara keras mengkritik sistem pendidikan dalam sebuah keluarga yang notabene masih menganggap tabu atau masih menganggap bahwa seorang anak yang mengkritik orang tuanya adalah anak yang durhaka dan terkutuk. Bukankah seorang anak adalah "titipan" Tuhan? Seorang anak bukan boneka yang bisa dimiliki dan diapakan saja. Jadi, nilai kebebasan untuk memilih harus terus ditanamkan, maka ketika orangtua salah atau kurang benar maka si anak tidak merasa takut untuk menolak perintah orangtuanya dan orangtua pun jangan terlalu ringan untuk memvonis si anak sebagai anak yang tidak berbakti.
Merespons dan Menghidupkan
Percakapan-percakapan yang panjang antartokoh dalam naskah ini, selama pementasan, terasa tidak membosankan. Itulah kehebatan naskah ini. Kejenuhan itu menjadi tidak terasa karena metode dialektis antara pemain dengan penonton terjadi secara harmonis. Dialektis yang saya maksudkan adalah penggambaran secara nyata apa yang dibayangkan atau sedang digelisahkan oleh para tokohnya, terutama oleh Willy.
Penggambaran-penggambaran ini memang tidak terlalu vulgar terlihat, sebab tidak ada tokoh pengganti dalam adegan antara masa lalu dan masa kini. Semuanya diperankan oleh orang yang sama dan setting yang sama. Namun, lewat musik dan lighting, penonton bisa merasakan dan membedakannya. Pada pementasan ini, anggota Teater 108 telah menunjukkan sebuah tim kerja yang sehat dan harmonis -- semuanya saling mendukung dan saling berdialog untuk saling melengkapi walaupun suara musik sesekali memang terdengar terlalu keras dan nyaris menenggelamkan vokal para aktornya.
Lalu, bagaimana dengan para aktor? Tentu saja kekurangannya akan selalu ada, walaupun sangat kecil. Misalnya saja ketika adegan pertama di mana Biff dan Willy secara tidak sengaja mendengar percakapan kedua orangtuanya dari dalam kamar mereka. Dalam kamar itu (di atas tempat tidur) vokal Happy sering timbul-tenggelam -- terkadang jelas terdengar, terkadang tidak.
Konsistensi pada intonasi dan volume suara perlu lebih diperhatikan oleh Happy dan terkadang Happy kurang aktif menanggapi lawan bicaranya. Happy terlihat selalu menunggu, bengong tanpa bahasa tubuh sehingga terkesan masih menghapal dialog dan belum menikmati dialog tersebut. Sebenarnya hal tersebut bisa diingatkan dengan cara meminjam dialog lawan bicara atau bisa juga dengan lebih memaksimalkan gerakan-gerakan tubuh sehingga aktor yang lupa itu bisa teringat kembali dengan dialognya. Paman Ben, misalnya, beberapa kali terlihat mendahului, padahal adegan ilusi belum terjadi sehingga secara tidak langsung kehadirannya memecah konsentrasi penonton dan akibatnya lagi penonton kehilangan beberapa kata atau kalimat dari tokoh yang belum menyelesaikan dialognya. Bukankah para aktor dan sutradara memiliki maksud yang ingin disampaikan kepada penonton?
Selain dialog, eksplorasi dengan properti seperti tempat tidur (adegan Biff dan Happy) yang masih belum digunakan secara maksimal. Bisa saja Biff dan Happy melakukan dialog dengan berganti tempat duduk, berganti ranjang atau memain-mainkan bantal dan selimut yang ada di atas tempat tidur itu. Mungkin, benda-benda itu akan lebih hidup dan mampu menggambarkan sebuah makna bahasa (simbol) yang notabene bukan hanya berfungsi sebagai hiasan pelengkap saja.
Diposting oleh
tomo
di
20.37
2
komentar
Label: Kelompok SatuKosongDelapan
Blognya Sahabat
Aksi minimalis Blackfogs Andy Padang the motivator! aRya Gothic Ayip Matamera Bilal Furqoni Bintang Bermusik Bonekanya Dian Car Insurance Dedi Dolrosyed Craig Says Digital Polaroid Dr Dree Spesialis Mata Fanty as Drama Queen Free Tips for You Kata Heru Live lovenya Oecan love-dollar mas ncEp Mangkok Bali Mediax Yonas Sestrakresna the videomaker Tatiana Browniestone Rais Blajar Terus Slugger skater Satya Natherland Rumah Tulisan Plinplan n cute Penyair Wayan "Jenki" Sunarta Pak cik Teranung di Jiran Ratih Indrihapsari Dayu Cute Puisi Selaksa Jiwa Bams Rendesvouse Penyair Riki Damparan Putra Saichu Soulidaritas Dadap Blog Learning English Pojok Waroeng Kopi Tenggarong23 Etavasi Blogkita-Bandungblog Civil Engineering Bagus Batam Hidup Belajar Nara Chill Lounge Music Neo Kid on the Blog Love-sex and Marriage New Music Update Retchel 1980 Craig Says Marilyn Kate Soraya City Adek Campur Campur Pinay Mom in Czech Hideout Gateway Gles Moch Satrio Welang
Teater Topeng SMAN 2 Denpasar
Intan Ivanna John
Teater Rumput SMKN 1 Denpasar
Robby

